Mikrofon Pelepas Kutang Untuk Indonesia Raya


Makin hari, hidup di Indonesia makin banyak tantangan bosku. Anak-anak gaul Jakarta pasti paham dan khatam mengenai persoalan mengendalikan kewarasan di tengah-tengah kemacetan. Beda lagi yang sering keretaan. Mulai dari pegel linu karena kelamaan berdiri, kecopetan, sampai ketemu bapak-bapak brengsek yang hobi menggesekan alat kelamin ke tubuh penumpang, adalah beberapa dari 1001 bahaya yang harus teman-teman ANKER (Anak Kereta) hadapi. Alah, bau ketek mas-mas sebelah mah sudah jadi makanan sehari-hari. Teman saya bahkan katanya pernah pingsan karena nggak kuat berimpit-impitan di dalam kereta yang superpadat. Untung nggak sampai viral di lentudei, katanya.


Menjadi Indonesia berarti juga harus siap menonton acara teve yang bagus-bagus. Bagus buat menguji ketahanan mental maksudnya. Ingat nggak, dulu pernah hits acara Termejek-mejek. Ceritanya, si pembawa acara membuntuti target operasi di Mal, di sekolah, sampai di sudut-sudut jamban. Gara-gara itu, aktivitas menguntit alias stalking jadi tekesan keren (sampai sekarang), which is actually not!

Kru teve memang canggih dan berdedikasi tinggi bosku. Daya nalar dan kreativitas mereka tak pernah ada habisnya. Reality show dengan rating selangit terus bermunculan. Baru-baru ini ada lagi yang tidak kalah cihuy. Kalau tidak salah, nama acaranya Mikrofon Pelepas Kutang.

What?!
Yagitude~

Saya tahu itu juga karena ibu saya adalah penonton tetap acara itu. Saban petang sepulang saya kerja, beliau pasti selalu stand-by menghadap layar kaca. Menyaksikan seorang kontestan berusaha melepas kutang di depan mikrofon. Apakah kutangnya akan terlepas? Tunggu setelah pariwara berikut ini, kata si pembawa acara.

Siapa di dunia ini yang tidak pakai kutang? Kutang adalah aset. Saya saja pakai (maksudnya kaos kutang). Bagi saya yang lelaki, kutang berfaedah menyerap keringat agar badan tidak bau, sehingga tidak menjadi sumber kemalangan hidung orang di sebelah.

Buat wanita, kutang berfungsi menyokong segala yang harus disokong. Eh gimana. Sudah saya bilang, kru kreatif teve memang cermat melihat peluang. Setiap orang yang memakai kutang, tentu ingin kutangnya dilepas, apalagi setelah bekerja seharian. Biar legaaa... (Naon ih sia!)

Sambil menemani ibu menonton, saya jadi berpikir. Wah, enak sekali ya jika punya mikrofon itu. Ibu jadi tidak kesusahan lagi saat melepas kutang. Melepas pengait kutang tidak perlu repot-repot sampai tangan ketekuk ke belakang. Ibu cukup bernyanyi di depan mikrofon, abrakadabra. Kutang terlepas. Saya langsung mengacungi jempol dan standing applause. Yawla acara ini patut mendapat penghargaan nobel perdamaian!

Indonesia, saya rasa juga butuh mikrofon ajaib semacam ini. Mikrofon pengurai kemacetan, mikrofon penyurut banjir, atau mikrofon penurun tingkat kemiskinan misalnya. Andai saja ya...
Andai hanya andai. Pada kenyataannya, mikrofon semacam itu tidak pernah ada. Yang ada justru adalah mikrofon pengujar kebencian. Ya Alloh...

Mikrofon yang saya sebut terakhir ini memang belakangan sedang marak digunakan. Dengan mikrofon jenis ini, ada yang teriak "bunuh bunuh!" atau "ganyang non-pribumi!" dengan begitu mudahnya, semudah mba Syahrini mengucap "maju mundur cantiiik..."

Nahasnya, mikrofon ini ada di mana-mana yawla. Ada yang menggunakannya pada saat rapat organisasi. Ada pula yang pakai untuk tujuan menyulut api amarah jutaan pengikutnya. Dampaknya jangan ditanya.

Jadi... kini menjadi orang Indonesia makin jelimet dan ruwet yekan. Kewarasan kini menjadi barang yang amat langka. Lupakan sejenak acara berdesak-desakan di pintu kereta, karena bisa jadi berikutnya kita sudah jotos-jotosan demi memuaskan arogansi keyakinan. Lupakan juga acara nonfaedah macam Termejek-mejek, karena bisa jadi nanti akan hadir reality show baru yang namanya Terciduk-ciduk, di mana kita nanti jadi target operasinya; hanya karena kepeleset lidah atau menulis opini (yang dianggap) menyimpang di halaman Facebook.

Oh Ibu pertiwi. Ampuni kami... ampun... Bukannya semakin memajukan engkau, kami malah sibuk berantem mempersoalkan hal-hal bersifat sektarian, menentukan mana yang lebih berhak menjadi Indonesia; aku atau kamu, kita atau mereka. Padahal sejatinya kita bersaudara. Kita adalah satu. Bhineka Tunggal Ika.

Kalau begini, Pak Karno dan Pak Hatta bisa jadi murung dan sedih. Dan barangkali bapak-bapak pendiri bangsa sebelumnha tidak pernah mengira, bahwa alat bernama mikrofon yang pernah mereka gunakan untuk menggelorakan semangat perjuangan kemerdekaan itu justru kini digunakan untuk tujuan mencerai-berai persatuan.

Gusti... kalau begitu doa saya cuma satu dan sederhana deh: Moga-moga mikrofon mereka baterainya habis. Amin.

Sekian.

*
sumber foto: web historia.id

Comments

  1. Satirenya mengena sekali Mas, hehe. Dari acara televisi yang hanya mengumbar derita orang tapi tidak ada nilai pendidikan, sampai ke propaganda antikebhinekaan, semua dirangkum dengan satu benang merah: mikrofon. Menurut saya, masih banyak masalah terjadi di bangsa ini, tapi saya juga sadar belum bisa berbuat banyak, apalagi dengan skala besar. Tapi sepertinya sesuatu yang berbeda bisa kita lakukan dengan tulisan, ya. Minimal ada satu orang yang tercerahkan dengan apa yang kita tulis, dan itu sudah membuat rasa bersyukur pantas mendapat tempat, hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati