"Basa-basi" Kok Basi?

Sumber: Link

"Kamu kamu gendutan..."

"Ih, kok sekarang item gini sih kamu? Main panas-panasan mulu ya."

"Muka kamu kok jadi jerawatan gitu? Kelamaan jomblo sih!"

Apakah kalimat-kalimat di atas terdengar familiar di telinga? Atau apakah jangan-jangan kita suka mengawali pembicaraan dengan kalimat-kalimat seperti itu?

Dalam budaya orang Indonesia, kalimat-kalimat pembuka suatu obrolan lebih dikenal dengan istilah "basa-basi". Saya nggak tahu pasti dari mana istilah tersebut muncul pada mulanya. Tapi jika saya kutip definisinya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia versi luring, makna dari frase "basa-basi" adalah "tata krama dalam pergaulan" atau "ungkapan yang digunakan hanya untuk sopan-santun... misalnya kalimat 'apa kabar?' yang diucapkan apabila kita bertemu kawan".

Nah, kalau mengacu definisi KBBI tersebut jelas sudah bahwa tujuan dari budaya "basa-basi" mestinya adalah untuk kesopanan dalam pergaulan. Cakep ya kalau begitu. Lah, emang kalau sekarang gimana?

Zaman baheula, boleh jadi basa-basi memang murni digunakan untuk tujuan tata-krama. Kita bisa melihat contohnya pada generasi angkatan papa-mama. Pada saat jumpa dengan kawan atau kerabatnya, mereka nggak lupa menyapa dengan kata-kata, "Apa kabar, Bu? Wah... anaknya sudah besar ya..." atau, "Gimana kabar suaminya? Mudah-mudahan sehat terus ya..." Sederhana dan adem didengar telinga kan. Nggak ada tuh ditambahkan soal esai macam: “loh kok sendiri saja, gandengannya mana?” Yaelah~

Seiring perkembangan peradaban, gaya pergaulan dan ragam basa-basi pun tak ayal mengalami pergeseran. Dari yang semula hanya berupa pertanyaan sederhana nan santun, kini berbasa-basi rasanya tidak cukup hanya demikian, ada saja plus-plus di belakangnya. Entah ditambahkan embel-embel berupa ejekan yang merendahkan, mengomentari kondisi fisik, bahkan mempersoalkan kehidupan pribadi lawan bicara. Disadari atau tidak, "basa-basi" kini telah berganti fungsi menjadi ajang mengurusi hidup orang lain. Bahkan, lebih-lebih sebagai ajang melakukan verbal abuse alias kekerasan verbal terhadap lawan bicara. Duh!

Alah, wong cuma gitu doang, kok. Bercanda kali... Baper banget sih lo. Yah, lantaran sudah jadi kebiasaan, boleh jadi kita akan menganggap itu maklum dan tak perlu dijadikan perkara. Toh, selama tidak ada luka memar atau berdarah, berarti tidak ada yang terluka kan, katanya.

Padahal Peg Streep dalam artikelnya mengungkapkan bahwa ada kesamaan antara ketika seseorang mengalami nyeri fisik dan ketika merasakan sakit secara emosional. Streep mengutip percobaan yang dilakukan oleh Naomi L. Eisenberg, di mana dari percobaan itu diketahui bahwa ketika nyeri fisik terjadi, sirkuit “saraf rasa” yang sama juga teraktivasi sebagaimana ketika seseorang merasa dikucilkan. Singkatnya, ternyata yang namanya sakit hati itu nggak beda jauh kok dengan nyeri fisik. Sama-sama perih, Kapten!

Ah, tapi dia fine-fine aja tuh, kata merela lagi. Yakin nih? Coba sama-sama kita bayangkan seandainya kita adalah obyek kekerasan verbal itu. Misalnya, apakah kita tahu bahwa boleh jadi cewek yang sering kita bilang "gendutan" itu tengah berjuang setengah-mati melakukan diet ketat yang amat menyiksa fisik bahkan psikisnya. Dia terus-menerus dihantui depresi karena orang-orang kerap mengejek ukuran tubuhnya setiap kali ada kesempatan. Kita juga tidak pernah tahu, jangan-jangan dia juga sedang menghadapi masalah lain, dan "basa-basi" yang kita ucapkan justru menambah beban pikirannya.

Terdengar berlebihan? Tidak juga. Sebab, andaikata kita sendiri yang berada di posisi korban, sama sekali tak menutup kemungkinan ilustrasi di atas akan menjadi kenyataan bahkan malah bisa lebih mengerikan daripada itu.

Mmmm, kalau sudah begini saya jadi teringat kata mendiang Harper Lee dalam novel "To Kill A Mockingbird". Kata beliau: "Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.. hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya". Tuh!

Tak dapat dipungkiri, betapa besar kekuatan yang dimiliki oleh kata-kata ya. Ibarat mantra sihir mandraguna, kata mampu membuat seseorang menjadi bahagia bukan main. Tapi di sisi lain, ia juga mampu menjadi penyebab seseorang bermuram durja.

Begitulah. Basa-basi memang semudah meludah. Tapi toh tak ada salahnya berbasa-basi dengan kata-kata yang menyejukan, bukan malah dengan celaan yang bikin perih. Basa-basi tapi jangan basi!

Sebagai penutup, kita boleh sama-sama mengamini satu nasihat lama yang tak pernah usang. Bahwa betapa lidah teramat lunak, tetapi kata-kata bisa setajam pedang.

Salam,

jejakjuli.com

Comments

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati