Ulasan Film Lion: Sebuah Perjalanan Panjang Untuk Kembali Pulang

Ulasan Film Lion
Ulasan Film Lion: A Long Way Home

Lelaki kecil kumal itu bernama Saroo. Ia secara tak sengaja terpisah dengan abangnya di stasiun kereta. Tubuhnya yang mungil itu kemudian dibawa ikut bersama sebuah kereta menuju Bengali, ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Ia samasekali tak tahu akan kemana kereta membawanya. Takut, bingung, dan sedih membaur jadi satu. Namun, di sanalah petualangan Saroo bermula.

Di atas ialah salah satu adegan yang saya petik dari film "Lion" yang dirilis pada penghujung tahun 2016 lalu. Film yang diperankan oleh Dev Patel (sebagai Saroo dewasa) itu berhasil membuat saya menyeka airmata pada akhirnya. Pencarian atas rumah dan penghayatan tentang makna "pulang" memang amat rentan meninggalkan haru bagi siapapun. Termasuk saya.

Pulang. Satu kata itu mungkin terdengar biasa bagi kita. Tetapi, bagi sebagian orang lainnya kata itu bisa saja mengandung makna tersendiri bahkan memiliki efek magis. Ia mampu mengundang rasa hangat, haru, bahkan rindu. Misalnya, bagi seseorang yang demi pekerjaan harus meninggalkan keluarganya di kampung untuk mengais rezeki di ibukota, lantas pulang ke kampung halaman pastilah menjadi satu hal yang amat ia tunggu-tunggu. Atau bagi mahasiswa yang harus menuntut ilmu jauh dari kedua orangtuanya, menjadi amat berharga makna sebuah pertemuan ketika pulang.

Dalam film berdurasi hampir dua jam ini, diceritakan bahwa Saroo kecil tinggal di pemukiman kumuh di salah satu sudut India. Tanpa sang suami, ibu Saroo harus menghidupi ketiga anaknya dengan bekerja menjadi kuli batu. Guddu, kakak Saroo, bekerja serabutan siang dan malam hanya agar bisa membeli beberapa kantung susu dan makanan untuk mengisi perutnya serta adik-adiknya. Bahkan dalam satu adegan yang menohok, digambarkan bagaimana Guddu tidak mampu membelikan jalebi (jajanan khas India) untuk sang adik. 

Saroo kecil

Potret kemiskinan yang amat menyedihkan itu cukup menguras rasa iba dan haru. Menyadari bahwa film ini merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah buku berjudul "A Long Way Home" karya Saroo Brierley dan benar-benar dialami oleh Saroo sendiri, saya hanya menganga dan bergidik ngeri. Tapi toh memang pada kenyataannya realitas semacam itu benar-benar ada, bahkan sangat jamak di sekitar kita. Pemulung sampah, pengamen, gelandangan yang tidur di atas gerobak ketika malam hari, semua itu mungkin kerap kita lihat dan temui. Kemiskinan adalah kerabat dekat yang acap kita abai terhadapnya.

Kembali ke kisah Saroo. Adalah takdir yang kemudian memiliki jalannya sendiri. Saroo kecil tersesat, dan sejak itulah perjalanan hidup yang amat pahit harus dilaluinya: menjadi gelandangan, tidur di jalan, menjadi pemulung, hingga kemudian pada akhirnya sebuah panti asuhan memeliharanya. Bertahun-tahun ia dinyatakan hilang, namun karena keterbatasan informasi yang ada pada masa itu, tak ada siapapun yang datang untuk menjemput Saroo. Akhirnya, pasangan suami-istri di Australia mengadopsi Saroo sebagai anaknya. Sejak itu, kehidupan Saroo yang barupun dimulai.

"Rumah"
"Do you have any idea what it's like knowing my real brother and mother spending every day of their lives looking for me? Huh? How every day my real brother screams my name? Can you imagine the pain they must be in not knowing where I am?" Saroo Brierley
Dua puluh tahun lebih telah berlalu. Saroo, lelaki kecil itu telah tumbuh menjadi pria dewasa. Tinggal bersama kedua orangtua angkatnya yang baik, hidup dengan segala kecukupan (bahkan bisa dibilang mewah), dan berada di tempat tinggal dengan lingkungan yang kondusif di Australia, tak lantas membuat Saroo menemukan "rumah". Wajah ibu dan abangnya di masa lalu acap menghantuinya. Meski kenangan masa kecilnya tak lain adalah segala tentang kemiskinan, rasa lapar, dan lingkungan kumuh, namun itulah yang Saroo rindukan. Dan pulang, adalah satu-satunya jawaban atas segalanya.

Film arahan Garth Davis ini, bagi saya, amat menghangatkan dan layak untuk ditonton. Film ini pun cocok dihadiahkan untuk mereka yang tengah merindukan orangtua, saudara, kampung halaman atau "rumah" yang telah lama ditinggalkan. Selain itu, bagi saya pribadi yang cukup antusias dengan segala hal terkait perjalanan atau traveling, film ini juga menjadi menarik untuk dinikmati. Adegan ketika Saroo menempelkan peta-peta di seluruh dinding ruangan, memanfaatakn Google Earth yang belum secanggih saat ini, pergolakan emosi hingga frustrasi, segalanya demi menemukan di mana letak rumah yang bahkan telah hampir lenyap dalam ingatan.

Namun, sejauh apapun kita tersesat... bukankah selalu ada cahaya untuk menemukan jalan pulang?

Ah, saya jadi penasaran bagaimana teman-teman saya, si empunya blog www.ipehalena.com dan www.ayowaca.com memaknai film ini. Apa pelajaran yang kalian ambil dari film ini, hey teman-teman?

Salam,

jejakjuli.com

Comments

  1. Ketika Raden mengatakan bahwa Raden menyeka air mata di ending film. Saya bahkan ketika film belum sampai Setengahnya, dada saya sudah sesag dan hidung saya meler. Ternyata saya flu ~

    ReplyDelete
  2. Baru aja tadi nonton film ini tadi pagi. Dan saya nyesel baru nonton film ini.
    Pulang memang punya bnyak makna, dan manusia dalam hakikatnya memang akan melakukan apapun untuk pupang ke rumah.

    ReplyDelete
  3. Gambar yang dipilih (Saroo kecil menirukan gerakan makan orang lain yang di Kafe), ini salah satu bagian yang bisa jadi reminder buat kita semua. Semoga film ini bisa menjadi refleksi sisi kemanusiaan yang menonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa... Adegan saat saroo menirukan orang makan d cafe... Seakan" dia bisa kenyang bisa ikut merasakan nikmat makan di cafe padahal cm angan"... Pas tidur jg selalu inget sang ibu ngumpulin batu...apalagi saat saroo terus manggil" nama kaka'a Guddu... T_T

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati