Di Tengah Resital Piano: Perihal Pengakuan, Etika, dan Kewarasan Manusia (Digital)

Di tengah resital piano

Malam itu, di hall Erasmus Huis Jakarta, Tobias Borsboom memainkan salah satu piece milik Beethoven bertajuk Moonlight Sonata dengan segenap penghayatan. Jari-jemarinya menari dengan luwes di atas tuts piano kesana-kemari, menciptakan alunan nada yang berkelindan magis. Sementara itu dari air wajahnya, kita dapat memastikan bahwa imajinasi pria asal Belanda itu telah mengangkasa ke fase spiritual yang sungguh tinggi, yang mungkin tidak bisa dipahami oleh orang awam (seperti kita).

Di salah satu sudut barisan bangku penonton itulah, saya tengah duduk tertegun menatap ke depan. Takjub tak berkedip. Ya, dari sekian komposisi yang dimainkan oleh Tobias malam itu, Moonlight Sonata-lah yang paling familiar bagi saya. Dan rasanya semua orang juga familiar dengan karya Beethoven yang satu itu, apalagi dengan Für Elise yang amat melegenda.

Jujur, jika ditanyai lebih jauh mengenai musik klasik, tentu saya akan lebih sering diam sebab memang tak tahu banyak tentang itu. Katakanlah kamus musik klasik saya paling tak jauh-jauh dari Bach, Mozart, Chopin, dan Beethoven. Sedang, malam itu saya memang sengaja hadir di acara resital piano Tobias Borsboom sebab penasaran. Saya amat penasaran bagaimana sensasi mendengarkan alunan piano secara langsung, sebab selama ini saya hanya kerap mendengarnya lewat pemutar musik di ponsel menjelang tidur, saat di dalam mobil, atau saat-saat senggang lainnya. (Padahal dulu saat kecil, saya ingin sekali menjadi pianis. Sampai-sampai ketika ulang tahun ketujuh saya merengek agar dihadiahi piano tapi keinginan itu tak pernah terwujud sampai sekarang hehe)

Sebelum masuk ke dalam aula tempat resital dihelat, saya semula berpikir bahwa sayalah satu-satunya yang paling awam dengan acara semacam ini. Maka tak heran, sebelum ke lokasi saya lebih dulu mencari informasi mengenai tatacara menghadiri acara resital piano. Seperti, anjuran mengenakan pakaian fromal atau rapi. Jangan berisik dan tidak boleh keluar hall pada saat performance tengah berlangsung, dan seterusnya. Saya lakukan semua anjuran yang ada. Sebab, setiap acara mestilah memiliki etika bukan? Dan pastilah etika acara resital amat berbeda dengan acara macam konser musik pop, misalnya, di mana saya bisa teriak-teriak lalala-yeyeye sesuka hati. Betul kan?

Tapi nyatanya, saya keliru.

Permainan Tobias Borsboom sangat indah, tentu saja. Amat memukau dan luar biasa. Ia pernah memenangkan Dutch Classical Talent Award untuk kategori solo performance. Dua segmen yang lebih-kurang  berjalan selama dua jam pun jadi terasa seperti hitungan menit saja. Tak terasa sama sekali. Bahkan salah satu piece yang ia mainkan menciptakan riuh tepuk tangan tak henti-hentinya ketika nada terakhir mengalun ke udara.

Namun, ketika saya pikir hanya saya yang paling awam tentang acara semacam ini saya amat keliru.

Di tengah-tengah permainan, tepat satu baris di depan saya, duduk tiga orang laki-laki yang juga merupakan penonton seperti saya (dan saya rasa mereka saling berteman) justru sedang asyik merekam, memfoto, dan sekali-sekali mengirim hasil rekaman itu ke media sosial (saya tebak, itu whatsapp dan Instagram Story). Luar biasa. Di tengah-tengah aula yang diset cukup gelap yang semestinya untuk tujuan keheningan, jadi terkontaminasi oleh cahaya ponsel mereka. Sekali bahkan saya dengar suara "klak" yang cukup keras. Ups, salah seorang lupa mematikan mode suara kamera milik mereka. Kontan, para pentonton yang lain pun menengok ke arah suara itu. Menganggu? Jangan ditanya lagi.

Saya amat berharap mereka mematikan ponsel mereka usai kejadian "klak" tadi. Tapi nyatanya episode merekam dan memfoto itu tetap berlanjut, tepat menghalangi pandangan saya. Saya coba beri kode dengan kaki saya, menendang pelan kursi mereka. Tak berhasil. Akhirnya, saya hanya bisa menarik napas, dan memilih untuk mengembalikan konsentrasi dengan semampunya.

Syukur di segmen kedua, ketiga manusia itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Entah pulang atau enyah kemana, tak peduli. Kursi mereka pun kemudian diisi oleh dua orang cewek. Permainan pun dimulai kembali.

Alangkah, kejadian yang sama kembali terulang. Tuhan...

Perihal Pengakuan, Etika, dan Kewarasan Manusia (Digital)

Dalam Explorations in Personality, Henry A. Murray mengidentifikasi bahwa kebutuhan-kebutuhan (needs) yang dimiliki manusia dapat mendorong dan mengarahkan perilaku pribadi. Ketika lapar, misalnya, seseorang akan berusaha mencari makan untuk memuaskan kebutuhannya. Walau tentu saja ada pula yang memilih untuk mengontrol rasa lapar itu sebisa mungkin. Perilaku yang muncul akibat kebutuhan pada diri seseorang tentu bermacam-macam, tergantung pada kemampuan kontrol atau pertimbangan masing-masing individu.

Seseorang yang kerap merasa kurang mendapat pengakuan dari orang lain, misalnya, bisa jadi akan terus-menerus berusaha bagaimana caranya supaya orang lain memperhatikannya. Hasrat untuk 'pamer' pun muncul. Dari sisi yang negatif seperti dalam kasus resital piano di atas, contohnya, seseorang akan 'merasa perlu dan mendesak' untuk mengunggah foto dan video tanpa pertimbangan sama sekali, hanya demi agar kebutuhan atas pengakuan ia dapatkan. Bahkan dalam kondisi yang cukup ekstrem, ia akan melupakan bahwa perilaku tersebut dapat merugikan dirinya sendiri, lebih-lebih merugikan orang lain. "Oang lain ngerasa terganggu, masa bodoh. Yang penting gue eksis! Etika? Apa itu etika?"

Dalam Murray's list of needs, kebutuhan atas pengakuan dapat masuk ke dalam kategori 'Exhibition': To make an impression. To be seen and heard. To excite, amaze, fascinate, entertain, shock, intrigue, amuse, or entice others.

Tentu saja tak ada yang salah dengan to make an impression, maupun to be seen and heard. Manusiawi bukan? Bahkan, misalnya, jika kamu sampai nekat selfie di tepi tebing yang amat tinggi hingga jatuh dan meninggal (?), you take all the risks by yourself.

Akan tetapi yang semestinya kita sadari adalah bahwa aktivitas pemenuhan kebutuhan pribadi selalu akan bersinggungan dengan kebutuhan orang lain. Our needs vs their needs. Our freedom vs their freedom. Untuk itulah, kita kemudian memerlukan aturan dan menetapkan etika dengan tujuan agar segalanya berjalan seimbang. Untuk itulah, sebagai manusia (digital) kita pun senantiasa memerlukan kewarasan agar tetap mampu berpikir sebelum bertindak (bodoh).

Dan pada akhirnya, segalanya kembali ke diri individu masing-masing. Perilaku apa yang kemudian dipilih untuk membuat orang lain to be impressed, apakah dengan menjadi penonton menyebalkan, atau menjadi Tobias Borsboom yang mampu membuat seluruh aula riuh bertepuk tangan?

Salam,

jejakjuli.com

_____

Sumber bacaan:

1. Theories Of Personality, Duane Schultz & Sydney Schultz

2. Murray's Needs

3. Tobias Borsboom

Comments

  1. Sepertinya, ini pertanda Raden itu magnet segala manusia yang aneh bin ajaib bin hadir di dunia ini.

    Btw, saya jadi kepengen nonton konser david foster #ganyambungya #biarin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati