Visit Tidore Island - Hikayat Rempah-Rempah dan Surga Tersembunyi Di Timur Nusantara

Visit Tidore Island - Hikayat Rempah-Rempah dan Surga Tersembunyi Di Timur Nusantara

Obyek Wisata Tidore
Sumber gambar: Ilham Arch
"Syahdan, mendaratlah di Ternate seorang Arab bernama Jafar Sadek (terkadang disebut juga Jafar Noh). Dia naik ke atas sebuah bukit bernama Jore-jore dan membangun rumahnya di sana...

Suatu petang, ketika hendak mandi, Jafar Sadek melihat tujuh bidadari sedang mandi di danau itu. Jafar Sadek menyembunyikan salah satu sayap ketujuh bidadari itu. Setelah puas mandi, ketujuh bidadari bersiap-siap pulang, tetapi salah seorang di antaranya, bernama Nur Sifa, tidak dapat terbang pulang karena sayapnya hilang...

Karena tidak punya sayap, Nur Sifa terpaksa tinggal di bumi dan kawin dengan Jafar Sadek."*

Cerita di atas merupakan penggalan dari hikayat yang ditulis oleh Naidah tentang asal-usul kerajaan-kerajaan besar Maluku, yaitu kerajaan Bacan, Jailolo, Tidore, dan Ternate. Sejarah Ternate yang ditulis oleh Naidah ini sekilas mengingatkan kita pada legenda Jaya Katwang di Jawa Timur. P. van der Crab kemudian menerjemahkan karya Naidah ini dalam bahasa Belanda pada 1878.


Legenda-legenda semacam itu cukup masyhur dan menjelma menjadi cerita rakyat sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Maluku pada umumnya dan para wisatawan yang ingin tahu lebih jauh. Selain Hikayat Naidah di atas, versi lain seperti Hikayat Bacan yang dipublikasikan pada 1923 oleh W. Ph. Coolhaas juga menjadi salah satu sumber penting tentang sejarah kerajaan Maluku.

Sementara itu, dikutip dari Van Fraassen, nama "Maluku" sendiri konon telah ada di dalam Nagarakertagama (1365) dengan sebutan "Maloko". Sedang menurut pendapat lain, kata "Maluku" merupakan serapan dari kata Arab "malik" yang bermakna "raja". Konon, pada zaman itu para pedagang Arab menyebut kepulauan di Maluku sebagai kepulauan raja-raja, yang mana kerajaan-kerajaan yang dimaksud adalah Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. Teori kedua mengenai asal-usul kata "Maluku" ini lebih populer di khalayak umum.

Tidore, sebagai salah satu kerajaan paling berpengaruh di Maluku sejak sekitar abad ke-13, merupakan pesaing kuat Ternate yang tak dapat diremehkan begitu saja. Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh Tidore pada saat itu, meliputi antara lain: Halmahera, Seram Timur, Kepulauan Raja Ampat, dan Papua Daratan. Kendati begitu luasnya ekspansi teritorial yang dilakukan Tidore, kerajaan yang satu ini mendapat julukan Kie ma-Kolano, yang berarti "Raja Gunung".

Adapun, persaingan ketat antara Ternate dan Tidore dalam hal penguasaan teritorial ini bisa kita lihat dari fenomena perebutan Pulau Makian yang seolah tak berujung, di mana pulau tersebut beberapa kali berpindah tangan antara kedua kerajaan besar tersebut pada zaman itu.

Membahas keagungan masa lampau Tidore tentunya juga tak akan lepas dari kisah-kisah hebat para pemimpinnya yang bijaksana. Bagaimana kemudian kita patut belajar tentang kerendahan hati dari seorang Kaicil Rade, di mana dengan itu beliau mampu "menaklukan" Gubernur Portugis Antonio Galvao sehingga Portugis akhirnya sepakat untuk keluar dari Tidore. Lalu, ada pula Sultan Saifuddin, seorang sultan sekaligus ahli diplomasi yang mumpuni. Di mana pada masa Sultan Saifuddin inilah Tidore kemudian mendapatkan hak dan kedaulatan atas kepulauan Raja Ampat dan Papua Daratan.

Kisah tentang kerajaan-kerajaan Maluku akan sangat panjang jika diceritakan di sini. Namun, sepetik hikayat yang membuka tulisan ini mudah-mudahan dapat menjadi tambahan pengetahuan sekaligus pengingat. Bahwa kelak ketika kita memiliki kesempatan untuk menginjakan kaki di tanah Maluku, khususnya Tidore, setidaknya kita tahu jika di tanah yang sama pulalah pernah berdiri sebuah kerajaan besar dengan kisah-kisahnya yang amat memukau, kisah hidup para Kolano (raja) yang pernah bertahkta dan memerintah rakyat-rakyatnya dengan agung di masa lampau.

Hikayat Rempah-Rempah

Pada suatu masa yang amat lampau, datanglah manusia-manusia dari segala penjuru dunia. Mereka berbondong-bondong berlayar membelah samudera demi dapat menjejakan kaki di tanah surga bernama "Kepulauan Rempah-Rempah". Spicy Islands, sebut mereka pada kala itu.

Sejarah mencatat, cengkeh (Syzgium aromaticum) dan pala (Myrstica fragrans) sempat menjadi salah satu jenis rempah-rempah yang nilainya jauh lebih mahal daripada emas. Bahkan, pada sekitar abad ke-17 M, Pulau Run yang merupakan pulau terkecil di Kepulauan Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris disebabkan kekayaan rempah-rempahnya yang mengagumkan. Pertikaian antara Belanda dan Inggris itupun akhirnya menghasilkan satu penawaran paling spektakular dalam sejarah: menukar Pulau Run dengan Manhattan!

Sebagai salah satu surga rempah-rempah di gugusan "Spicy Islands", Tidore pun tak lepas dari incaran para penjelajah Eropa. Spanyol pun mengerahkan armadanya dan melakukan penjelajahan samudera untuk kemudian tiba di Tidore pada tahun 1521. Menurut sejarawan dan etnolog Italia bernama Pigafetta yang juga ikut bersama Spanyol pada saat ekspedisi dilakukan, mengatakan bahwa kedatangan mereka diterima dengan baik dan senang hati di Tidore. Pun, konon kehadiran mereka nyatanya telah diramalkan oleh Raja melalui sebuah mimpi, bahwa pada suatu masa akan tiba beberapa kapal ke Maluku dari tempat yang cukup jauh. Para perwira dan awak kapal pun memberikan penghormatan nan agung tatkala Raja menaiki kapal mereka yang telah melakukan penjelajahan dari negeri yang jauh itu.

Sejak saat itu, perdagangan dan kegiatan tukar-menukar pun dilakukan oleh Spanyol. Misalnya,satu bokor cengkih ditukar dengan 50 pasang gunting, dua bokor cengkih dengan tiga buah gong. Begitu seterusnya. Cengkih, yang menjadi daya tarik utama Tidore pada saat itu secara perlahan dikeruk oleh Spanyol untuk mereka bawa pulang ke Eropa. Fenomena ini lantas menarik perhatian Portugis yang kala itu memang telah bersekutu dengan Ternate. Intrik dan konflik antara keduanya pun tak dapat dielakan lagi.

Pada akhir masa kekuasaan Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain "King Mir", dimulailah monopoli perdagangan rempah-rempah oleh Portugis. Monopoli ini dilakukan menyusul peperangan yang terjadi antara Tidore dan Portugis. Perang tersebut, akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian perdamaian antara keduanya. Di mana salah satu pasal yang tercantum di dalam perjanjian itu menyebutkan, "Semua rempah-rempah hanya boleh dijual kepada Portugis dengan harga yang sama yang dibayarkan Portugis kepada Ternate." Berdasarkan perjanjian yang dibuat ini pulalah, Portugis akhirnya harus hengkang dari wilayah Tidore.

Tidore: Surga Tersembunyi Di Timur Nusantara

Rempah-rempah adalah kekayaan Indonesia yang akan selalu menarik untuk dijadikan bahan perbincangan. Sebab di balik itu, terbentanglah sejarah besar Nusantara di masa lalu. Namun, nyatanya kekayaan Indonesia tak lantas berhenti sampai di situ saja. Membahas Maluku atau Tidore tentu saja akan membawa kita pada kekayaan Nusantara yang lain, yaitu keindahan alamnya yang memukau.

Sebagai penggemar wisata bahari, mata saya pun segera terpikat begitu menengok foto-foto yang diunggah oleh Mas @ilhamarch pada akun instagram-nya. Ratusan fotonya yang mempromosikan keindahan alam Indonesia bagian timur itu, utamanya keindahan panorama laut, membuat saya jadi ingin bertandang ke sana juga.

Pada foto-fotonya yang memukau itu, birunya lautan tampak berkilau cemerlang bagaikan berlian yang ditempa sinar matahari. Satu foto yang paling saya suka adalah saat Mas @ilhamarch mencapai puncak Gunung Kie Matubu (Gunung Tidore) dan menyaksikan bentangan pulau-pulau dan laut biru dari atas awan. Ah, saya jadi membayangkan seandainya saya juga punya kesempatan untuk menjejakan kaki di Gunung Tidore, betapa senangnya pasti. 

Sembari berandai-andai, saya pikir tak ada salahnya saya membuat bucket list jika suatu saat bisa berkunjung ke Tidore, Pulau Rempah-Rempah yang bersejarah itu. Ini dia bucket list yang sudah saya coba buat.

1. Mencapai Puncak Kie Matubu
Menikmati Panorama Laut dan Pulau-pulau dari Puncak Kie Matubu. Sumber: ilhamarch.blogspot.co.id
Dari puncak Kie Matubu, kita bisa menyaksikan langsung keindahan laut dan pulau-pulau di bawahnya. Serasa sedang di atas awan!

Kie Matubu, atau lebih dikenal dengan sebutan Gunung Tidore merupakan titik tertinggi di Provinsi Maluku Utara. Untuk menuju puncak Kie Matubu, diperlukan waktu tempuh sekitar 4 jam dari Desa Gurabunga, sebuah desa yang memiliki julukan Desa Di Atas Awan.

Pengalaman berada di puncak Kie Matubu pastilah akan sangat menyenangkan. Dari atas sana, kita bisa melihat dengan jelas gugusan pulau-pulau dan gunung. Seperti Pulau Ternate, Pulau Maitara, Gunung Gamalama, Pulau Moti, Pulau Mare, Pulau Makian, dan lain-lain. Ah, seakan-akan dari atas awan kita bisa napaktilas riwayat kerajaan-kerajaan besar yang sebagaimana tercantum di dalam Hikayat Naidah.

2. Pulau Maitara, Pulau "Uang Seribu"
Pulau "Uang Seribu". Sumber: www.anakkos.net
Turun dari Puncak Kie Matubu, mari kita singgah di Pulau Maitara.

Pulau Maitara sangat terkenal di kalangan wisatawan, khususnya wisatawan domestik, karena pulau cantik ini dijadikan sebagai gambar pada pecahan uang Rp.1000. Untuk mencapai ke pulau ini, kira-kira hanya memakan waktu 20 menit dari Pulau Tidore.

Bagi pencinta wisata pantai, Pulau Maitara haruslah masuk ke dalam bucket list jika punya kesempatan main ke Tidore. Kombinasi pasir putih dan birunya laut menjadi daya tarik utama Maitara. Selain itu pula, keindahan bawah lautnya tak perlu diragukan lagi. Kita bisa snorkeling dan berjumpa langsung dengan ikan nemo!

3. Jelajah Sejarah Di Benteng Torre dan Tahula
Sumber gambar: link.
Menurut sejarah, diperkirakan nama "Torre" berhubungan dengan nama seorang Kapten Portugis yang bernama "Hernando De La Torre". Sementara Benteng Tahula dahulu kala merupakan basis militer Spanyol. Benteng yang berdiri di atas bukit di pesisir barat Pulau Tidore itu dulunya bernama Santiago de los Caballeros de Tidore.

Selain menelusuri jejak Portugis di tanah Tidore, dari atas Benteng Torre dan Tahula, kita juga bisa menikmati keindahan panorama Gunung Kie Matubu dan lautan biru yang membentang. Wah, seru betul pastinya!

4. Bermain-main di Pantai Cobo
Sumber gambar: link.
Dengan garis pantainya yang cukup luas, juga pasirnya yang bersih dan halus, Pantai Cobo menjadi pilihan yang tepat untuk liburan. Desir ombak yang tenang serta pemandangan lautnya yang jernih, menjadikan alasan saya untuk memasukkan pantai ini ke dalam bucket list.

Menurut situs web Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Maluku Utara, di sekitar kawasan Pantai Cobo ini juga terdapat bukit dan hutan-hutan produktif yang akan menambah keindahan panorama alam. Dari pantai ini pula kita dapat menikmati pemandangan Selat Halmahera yang menawan itu.

5. Bertemu Lumba-Lumba di Pulau Mare
Sumber gambar: Link
Ini dia yang paling ditunggu-tunggu. Bertemu lumba-lumba!

Sejak dulu saya memang punya keinginan bisa berjumpa secara langsung dengan si hewan cerdas lumba-lumba. Ya, bertemu langsung di lautan luas. Ah ternyata, di Pulau Mare keinginan ini bisa terwujud! 

Di perairan Pulau Mare, kita bisa menyaksikan atraksi lumba-lumba liar secara langsung. Asalkan, kita bangun pagi-pagi sekali, sebab kawanan lumba-lumba yang lucu itu konon hanya muncul pada pagi dan sore hari sekitar pukul 6. Waktu pagi dirasa lebih baik, karena pada saat itu penerangan cahaya jauh lebih bagus ketimbang petang. Ah, tentu saja saya akan bela-belain bangun pagi demi si lumba-lumba!

Kawasan timur nusantara tampaknya memang menyimpan begitu banyak "surga" yang menunggu untuk dikunjungi. Dan membahas wisata Tidore sendiri pun rasanya memang tak akan ada habisnya. Semakin dikulik, kok semakin banyak obyek menarik yang wajib dikunjungi di sana. Si Pulau Rempah-Rempah ini, rupanya selain kaya akan sejarah dan budaya, alamnya juga tak kalah kaya! Jadi, bagaimana? Sudahkan teman-teman membuat bucket list juga seperti saya? 

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini, ijinkan saya memetik kata-kata dari Siloloa yang diutarakan Yakub Husain, Kadis Budpar Kota Tidore Kepulauan, pada Narasi Festival Tidore 2017:

"Mari pulang sejenak untuk merawat rindu, pada tanah asal, mengenang Malikiddin Mansur Kaicil Maluko, Amirudin Iskandar Zulkarnaen "King Mir", serta membaca hikmah dan kebijaksanaan Kaicil Rade di Istana Gam mayou Mareku."

Nah, dengan demikian, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak berkunjung ke Pulau Rempah-Rempah ini kan? Mari, kita terbang ke timur. Visit Tidore Island!

Tabea,

jejakjuli.com



Sumber bacaan:

1. Kepulauan Rempah-Rempah - M. Adnan Amal

2. Rempah Indonesia: Inilah Riwayatnya Yang Mengubah Dunia
3. Pulau Run: Magnet Rempah-Rempah Nusantara - Giles Milton 
4. Menikmati Indahnya Kepulauan Rempah-rempah dari Puncak Tertinggi Maluku Utara

Comments

  1. Kepengen jalan2 ke Tidore jugaaa! Pengen mantai dan nikmatin masakan khas daerahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga keinginannya terwujud ya, Mbak. Amin. :)

      Delete
  2. Tidore emang keren banget. Pengen sekali berkunjung ke pantai pantainya seperti Maitara yang ada di uang kertas pecahan 1000 rupiah, lalu berenang sambil liat ikan ikan dan trumbu karangnya, pasti seru banget. Btw moga sukses ya artikelnya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantai di sana bagus-bagus sekali ya Mas. Terima kasih Mas. Sama2 ya. :)

      Delete
  3. Sekarang kok rempah2 ndak jadi komoditas andalan lagi, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Kang Rudi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalo dari yang saya baca, semenjak rempah-rempah bisa dibudidayakan di mana2, secara otomatis nilai rempah2 pun semakin turun. :)

      Delete
  4. Ahai, Juli! Aku juga terkagum2 sama cerita dibalik raja2 itu. Dan, minuman favorit raja2 jaman dulu itu katanya minuman rempah2 juga! Aku pun :) Smg ya bisa menikmati rempah2 disana, kali aja barengan, amiennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Saya juga sedang minat dengan sejarah rempah-rempah. :)

      Delete
  5. pingin juga jalan2 ke tidore ........

    ReplyDelete
  6. Kali ini akibat banyak teman-teman bloger yang bahas tentang Wisata di Tidore jadi tambah penasaran dengan Berabagi Destinasi dan Festival disana ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati