Social Media Influencer, Buzzer, Dan Kebenaran Yang Digadaikan?

Sumber gambar: di sini

"Post truth adalah kebenaran tanpa fakta: orang-orang meyakini kebenaran atas sesuatu karena secara emosional mereka yakin bahwa itulah yang benar. Dengan kata lain, di era post-truth ini, kebenaran muncul dalam banyak wajah. Dan orang cenderung memilih kebenaran yang sesuai dengan emosinya." - Dina Sulaeman

____

Status Facebook Denny Siregar (DS) terkait Aksi Kendeng yang ia bagikan tempo lalu, menuai banyak komentar. Ada yang mendukung dan memuji, namun tak sedikit pula yang marah dan melempar protes, kritik, bahkan banyak yang menudingnya sebagai "buzzer bayaran".


Dalam tulisannya yang ia beri judul "Cari Makan Atas Nama Rakyat", Bung DS mempersoalkan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para petani Kendeng di depan Istana. Ia juga melempar kecurigaan bahwa acara semen kaki itu bukan murni ide dari para petani tetapi dikompori oleh oknum lain. "Sinetron Pabrik Rembang" (istilah yang digunakan Bung DS), kemudian ia anggap sama saja dengan kasus Dolly dan Kalijodo. Yang mana, menurutnya, dalam kasus-kasus tersebut sama-sama ada mafia LSM yang bergerak di belakangnya, sementara rakyat yang tidak tahu apa-apa, diperas dan ditakut-takuti.

Status yang menarik ribuan "like" dan dibagikan hingga ratusan kali itu sekilas terlihat masuk akal. Tapi, mari ambil napas dan tunggu sebentar. Dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Mata Rantai Perlawanan Yu Patmi", Zen RS memberikan tanggapan atas kicauan Denny Siregar itu. Ia menguraikan, setidak nya ada dua bias yang melatari status Bung DS.

Pertama, bias kelas. Yaitu: "Para petani, massa-rakyat, warga di desa-desa yang terpencil, dianggap “terlalu tidak tahu apa-apa” untuk memahami persoalan. Mereka dianggap tidak berpendidikan, atau naif, lebih menyedihkan lagi dianggap bodoh, hanya karena tidak mencecap pendidikan tinggi, sehingga mustahil punya inisiatif dan kemampuan melakukan perlawanan." (Zen RS)

Kedua, bias kota: "Bias ini berasal dari pandangan romantik yang memandang desa sebagai tempat yang penuh kedamaian, nihil konflik—persis seperti lukisan-lukisan Mooi Indie yang menggambarkan desa sebagai hamparan sawah hijau dengan aliran sungai jernih nan tenang dan tak pernah berubah." (Zen RS)

Uraian yang dikemukakan oleh Zen RS di atas lantas segera mematahkan asumsi-asumsi yang terkandung di dalam status Bung DS dan menelanjangi kegagalan logika yang ada di dalamnya. Meskipun demikian, tentu bukanlah Denny Siregar namanya jika tidak mampu mempengaruhi dan menggiring opini khalayak.

Pada era internet seperti saat ini, sosok semacam Bung DS bisa dikategorikan sebagai Social Media Influencer. Seorang Social Media Influencer membentuk sikap audience melalui blog, tweet, dan media sosial lainnya (Karen Freberg, Kristin Graham, Karen McGaughey, Laura A. Freberg, 2010). Istilah endorser dan buzzer biasanya dipakai oleh orang-orang untuk menyebut sosok Social Media Influencer ini.

Lantas, bagaimana mekanisme kerjanya?

Para Social Media Influencer, seperti definisi di atas, bekerja dengan cara menyebarkan gagasan melalui platform media sosial yang tersedia. Melalui kicauan Twitter, artikel Blog, status Facebook, dst, mereka berusaha menggiring opini audience dengan maksud agar para audience setuju dengan gagasan yang dibawanya. Para buzzer, misalnya, membuat puluhan bahkan ratusan kicauan di Twitter mengenai kualitas satu produk dengan harapan seseorang akan tertarik dengan produk tersebut. Atau, ada pula yang bergerak di segmen politik, melancarkan aksinya dengan maksud untuk menaikkan pamor calon kepala daerah tertentu. Jasa para buzzer ini biasanya dimanfaatkan oleh bagian marketing atau PR untuk melancarkan strategi pemasaran mereka. Tentu, dalam melakukan aksinya, para buzzer biasanya diganjar dengan tarif tertentu. Walau tak menutup kemungkinan ada pula buzzer atau social media influencer yang bergerak secara sukarela, yang mempopulerkan isu-isu tertentu karena faktor hobi, passion, atau memang bagian dari kegiatan kesukarelawanan.

Namun, untuk menjadi seorang Social Media Influencer yang jitu tentulah diperlukan strategi khusus. Bagaimana agar konten yang dibagikan disukai? Apa karakteristik sebuah konten agar bisa menjadi viral? Hal-hal semacam itu tentu perlu diperhatikan agar gagasan yang ingin disampaikan diterima secara efektif oleh audience, bahkan lebih-lebih menjadi viral. Untuk persoalan satu ini, seorang Social Media Influencer macam Bung DS tentu saja telah berada jauh di depan. Terlihat dari status-statusnya yang kerap menuai ribuan like, dan telah dibagian ratusan bahkan ribuan kali.

Jonah Berger dan Katherine L Milkman, dalam jurnalnya yang berjudul "What Makes Online Content Viral", menyatakan bahwa konten-konten yang mengandung emosi positif dan negatif dengan karakteristik "activation" atau "arousal", seperti rasa takjub, amarah, dan kecemasan, relatif akan sering dibagikan oleh audience dan bahkan menjadi viral. Singkatnya, apabila kita membaca satu status Facebook dan merasa kesal atau cemas setelahnya, probabilitas yang akan terjadi adalah kita akan sepakat dengan status tersebut, dan bahkan akan mengklik tombol like atau share sebanyak-banyaknya. Terlepas, apakah konten tersebut mengandung fakta ataukah sebnarnya hanya sebuah tulisan tak beralasan, namun yang terpenting adalah secara emosional itu terasa benar.

Pun demikian adanya ketika membaca status Bung DS yang berjudul "Cari Makan Atas Nama Rakyat". Pada bagian:

"Rakyat yang sejatinya tidak tahu apa-apa diperas kesulitan mereka, ditakut-takuti akan dampak jika mereka tidak melawan pemerintah dan segala macam usaha."

coba perhatikan kata "diperas" dan "ditakut-takuti". Seseorang mungkin akan merasa cemas dan marah ketika membacanya. Meskipun sejatinya informasi ini belum terkonfirmasi benar, namun pembaca mungkin telah lebih dulu memvonis bahwa informasi ini benar adanya, menganggap masyarakat memang diperas dan ditakut-takuti, hanya karena secara emosional informasi itu terasa sangat tepat bagi pembaca, tanpa peduli jangan-jangan informasi di atas hanyalah pepesan kosong belaka. Dan pembaca pun dibuat lupa pada sebuah fakta bahwa gugatan Masyarakat Peduli Kendeng terhadap PT Semen Indonesia telah dimenangkan oleh Mahkamah Agung. Begitulah, situasi yang terjadi di saat emosi berada di atas logika.

Seorang Social Media Influencer yang cerdik (sekaligus licik) kemudian melihat situasi ini sebagai peluang. Ada yang dengan jitu menciptakan konten hoax namun menggugah. Di mana, melalui konten itulah sesungguhnya ia menyasar emosi dan sisi sentimen para pembaca, dan (tentu saja) mengesampingkan kebenaran demi menggaet atensi dan pengikut sebanyak-sebanyaknya. Dengan demikian, misi yang diembannya pun dapat terwujud. Pundi-pundi didapat, sedang kebenaran... ah nanti saja.

Mengulik lebih dalam persoalan para influencer macam di atas tentu akan sangat memakan waktu, walau sebenarnya amat menarik juga. Tapi, setidaknya dari itu kita yang awam mampu memetik satu-dua hal. Bahwa... begini toh trik supaya konten menjadi viral. Atau, oh... begini cara mereka menggiring opini... oh begini toh cara agar tidak tertipu oleh sebuah konten, dst.

Lantas pada akhirnya, saya yang bukan Social Media Influencer ini ingin meminjam kata-kata Mbak Dina Sulaeman dalam tulisan beliau tentang Era Post Truth (Pasca Kebenaran):

"... kebenaran muncul dalam banyak wajah. Dan orang cenderung memilih kebenaran yang sesuai dengan emosinya."

Salam,

jejakjuli.com
(Bukan) Social Media Influencer

Comments

  1. Karena sesungguhnya konten hoax adalah makanan sehari2 kebanyakan orang ~

    ReplyDelete
  2. banyak belajar dari tulisan ini.

    ReplyDelete
  3. itu kalimat yang terakhir bener banget, aku juga begitu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati