Kuliner Belitung: Menikmati Surga Kuliner Di Negeri Laskar Pelangi

Kuliner Belitung Yang Wajib Dicoba
Kuliner Belitung: Menikmati Surga Kuliner Di Negeri Laskar Pelangi
Kuliner Belitung: Menikmati Surga Kuliner Di Negeri Laskar Pelangi. Kendaraan yang kami tumpangi baru saja melewati bundaran Batu Satam, kawasan KV. Senang (baca: Kafe Senang) Tanjung Pandan, Belitung. Dari balik jendela mobil, saya segera membayangkan Ikal, Lintang, Mahar, Kucai, Sahara dan teman-temannya sedang berlari-larian di sepanjang jalan atau sedang balap sepeda sembari tertawa riang. Ya, mereka adalah tokoh-tokoh yang hidup di dalam novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Konon, mereka benar-benar nyata. Sehingga saya pun yakin bahwa mereka memang ada, dan barangkali saat itu benar-benar sedang berada di sekitar saya.

Di pertigaan jalan, hanya berjarak lima menit dari Bundaran Batu Satam, berdirilah sebuah kedai makan bernuansa kuno khas Belitung, bertajuk Rumah Makan Belitong Timpo Diluk. Inilah destinasi terakhir yang kami kunjungi sebelum kami kembali ke Jakarta pada penerbangan sore hari. Dengan latar belakang langit mendung, rumah makan itu tampak otentik dengan nuansa masa lalu yang lekat.


Kak Ridha, salah satu dari rombongan kami, berdarah asli Belitung. Meski sejak kecil ia telah hijrah dan besar di pulau sebelah, Bangka, ia tahu banyak tentang "pulau timah" ini. Ketika Kak Ridha berbicara, sedikit-banyak dialeknya yang khas Melayu-Belitung itu tak ayal membuat saya teringat pada Bu Muslimah, guru SD "Laskar Pelangi" yang berhati lembut itu. Pertemuan saya dengan geng Bangka ini, yaitu Kak Ridha dan ketiga sahabatnya, terjadi tanpa sengaja. Sejak itu, kami bertujuh melakukan perjalanan bersama-sama kemana-mana. Cerita tentang pertemuan ini akan saya ceritakan di post lainnya, tentu saja. Sebab ini sayang untuk dilewatkan dan terlalu menarik untuk tidak dibagi.

Memasuki warung Timpo Diluk, nuansa jaman dahulu pun makin terasa. Ornamen-ornamen khas pedesaan semacam tudung pak tani, sepeda ontel, dulang, ambong, centong dudul, kukusan, dan lain-lain memenuhi dinding ruang makan yang beraksen kayu itu. Rumah makan Belitong Timpo Diluk ini boleh dikata merupakan rumah makan turun-temurun, yang mana resep hidangan yang ada padanya merupakan warisan sejak 1918. Pada pintu masuk rumah makan ini terpasang sebuah plang yang isinya menyatakan bahwa bangunan rumah makan ini merupakan warisan budaya yang dilindungi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Belitung.


Sembari menikmati hidangan yang telah tersedia di meja, Kak Ridha dan geng Bangka yang menemani tur kami selama di Belitung ini sedikit-banyak mulai menjelaskan ragam kuliner yang tersedia di Rumah Makan Khas Belitong Timpo Diluk ini.

1. Dulang Set

Dulang Set
Disajikan pada sebuah wadah bernama dulang, sajian ini berisi beberapa jenis makanan khas Belitong yang dijamin lezat rasanya. Masakan yang tersaji pada dulang ini antara lain: Gangan Ikan, Ayam Ketumbar, Sate Ikan, Sayur Sambal Ati Ampela, dan Sambal Serai. Menurut adat-istiadat masyarakat Belitong, sajian di dalam dulang ini biasanya disantap bersama-sama kerabat dan keluarga, atau dihidangkan untuk tamu kehormatan.

2. Berego

Berego

Saya menyebut penganan ini "lontong sayur" khas Belitung, meski sebenarnya lebih mirip dengan laksa sih. Makanan khas Melayu Belitong ini terbuat dari tepung beras putih yang dibentuk menyerupai mi lebar berbentuk pipih yang kemudian digulung bulat-bulat. Ketika digigit, ada tekstur kenyal dan rasanya cukup lengket. Kuahnya yang berwarna kuning keemasan itu dibuat dari santan gurih dicampur dengan daging ikan yang dihaluskan. Menurut Ka Ridha, cara makannya mestinya kuanya diguyur pada gulungan tepung itu, bukan malah dicelup seperti yang saya lakukan. Haha.

3. Sayur Sambal Ati Ampela

Sayur Sambal Ati Ampela
Sajian yang satu ini tidak jauh berbeda dengan sambal ati ampela yang biasa kita santap atau buat. Hanya saja, sambal ati ampela yang satu ini dicampur dengan tumisan sayur-sayuran seperti kacang panjang, kol, dll. Jadi, rasa gurih dan lezat sambal ati ampela ini semakin lengkap dengan campiran aneka sayuran di dalamnya

4. Nasi Ayam Sambal Lumpang Khas Belitung

Nasi Ayam Sambal Lumpang
Awalnya, saya kira daun hijau lebar yang dijadikan tatakan in adalah daun jati, ah ternyata bukan. Alas dan bungkus nasi yang digunakan pada sajian nasi ayam sambal lumpang khas belitung ini bernama daun simpor. Katanya, daun simpor ini memang jamak digunakan oleh masyarakat Belitung untuk aneka sajian masakan. Sementara itu, hidangan nasi ayam yang disajikan tidak berbeda dengan masakan nasi ayam yang sering kita temui. Yang membedakan adalah rasa sambal lumpang yang melengkapi sajian ini, dan tentunya bungkus daun simpor yang digunakan.

5. Gangan

Gangan
Inilah sang primadona di Belitung: Gangan. Rasanya, saya berani menjamin jika setiap rumah makan di Belitung punya menu yang satu ini. Pasalnya, setiap kali berkunjung ke rumah makan di Belitung, selalu saja saya temukan menu yang satu ini. Tak heran, selama berlibur di sana saya sering sekali menyantap masakan yang satu ini, dan saya suka. Haha.

Orang Belitung tampaknya sangat menyukai masakan ini, seakan-akan gangan adalah menu makanan yang wajib hukumnya. Bagi awam seperti saya, hidangan yang satu ini serupa dengan sayur ikan yang diberi bumbu kuning. Nyatanya, memang mirip. Gangan berisi ikan laut, biasanya ikan kue atau ikan ketarap, yang dimasak dengan aneka macam bumbu dan rempah-rempah, seperti kunyit, cabai, lengkuas, dan lain-lain. Rasa asam nan segar pada gangan dihasilkan dari potongan nanas yang dicampurkan di dalam kuah berwarna kuning itu.

Dari sekian kedai makan yang memiliki menu gangan, yang paling saya suka adalah kedai makan di pinggir pantai Kelayang. Kuahnya benar-benar lezat dan rasa asamnya juga pas di lidah saya. Rumah Makan Timpo Diluk juga menyajikan gangan yang tidak kalah lezat. Uniknya lagi, di rumah makan Timpo Diluk juga tersedia menu gangan yang disajikan di dalam buah kelapa muda loh! Luar biasa, ya.

Jadi, kalau ke Belitung rasanya belum lengkap jika belum menikmati lezatnya gangan ini ya!

Akhirnya, tak berlebihaan rasanya jika Belitung kita nobatkan sebagai surga bagi pencinta kuliner. Banyak ragam masakan yang bisa dinikmati di sana, yang mungkin belum pernah ditemui di tempat lain. Maka, jika ada kesempatan melakukan perjalanan ke Belitong, janganlah lupa untuk menjelajahi jejak kulinernya juga ya.

Comments

  1. Sudah pernah coba semua, hihi. Enak banget! Sekarang saat baca ini saya terngiang akan nikmat dan segar kuah gangannya. Saya suka kuliner Belitung, sebab sesuai dengan selera saya, hehe.
    Restoran Timpo Duluk ini memang terkenal ya. Jika akhir pekan tiba, restoran ini ramai sekali.

    Kebudayaan dan kuliner Belitung itu unik, ya... menurut saya meski masih ada pertalian dengan Melayu namun serasa ada yang berbeda, Belitung punya jalannya sendiri, hehe.

    ReplyDelete
  2. udah tua banget ya dari tahun 1918, melegenda sekali.

    saya kira yang buat bungkus nasi ayam itu juga daun jati mas. sepintas kalau diliat mirip daun jati banget, ternyata bukan hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati