Jelajah Mata Air: Di Kota Ini Ada Air Terjun Berwarna Tosca

Jelajah Mata Air: Di Kota Ini Ada Air Terjun Berwarna Tosca

Curug di taman nasional halimun salak
Credit: @_febrian
Berenang Di Air Terjun Ini Berbahaya? Betulan?

Siapa sangka, Taman Nasional Gunung Halimun - Salak yang berada di daerah Bogor ini ternyata memiliki banyak sekali curug alias air terjun. Dari denah Taman Nasional Gunung Halimun - Salak yang saya baca, ada sekitar tujuh (atau sepuluh?) mata air yang bisa kita datangi. Di antaranya adalah Curug Pangeran, Curug Ngumpet, Curuh Kondang... apalagi ya? Saya lupa. Haha. Intinya, jika mau berwisata alam dengan nuansa air terjun yang menyegarkan, rasanya tidak perlu lagi ya pergi jauh-jauh. Cukup meluncur ke Bogor dan menuju ke Taman Nasional ini.

Tapi...

Apakah curug-curug di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun - Salak ini aman untuk dinikmati? Habis tersiar rumor, katanya pamali untuk berenang di beberapa curug yang ada. Bahaya. Betulan?

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman saya meluncur ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun - Salak yang berada di Kota Hujan ini. Benaran ya, rasanya setiap kali ke Bogor mestilah disambut hujan. Deras pula. Kita mulai was-was. Khawatir ketika sampai di kawasan konservasi seluas ratusan ribu hektar itu, nanti kita malah trekking sambil hujan-hujanan lagi. Tapi syukurlah, ternyata ketika sampai di lokasi hujan telah reda.

Masuk ke kawasan Taman Nasional Halimun, kami yang membawa mobil dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang (kalau tidak salah ya...). Melewati gerbang masuk, kami disapa oleh hijaunya pepohonan pinus dan udara sejuk yang menenangkan. Sayangnya, jalanan yang kami lewati, ehem, agak jelek.


Trekking menuju curug
Berjarak kurang-lebih 1 km dari gerbang masuk, sampailah kami di titik trekking menuju salah satu mata air tujuan di kawasan Taman Nasional Halimun, yaitu Curug Pangeran.

Ternyata tidak perlu waktu lama ya untuk sampai di lokasi air terjun. Kira-kira 5 menit saja, gemercik suara air terjun pun telah terdengar. Ah, meskipun rintik-rintik gerimis mulai turun lagi, biar saja deh. Nggak apa-apa. Saya memilih tetap turun menuju kolam alami di bawah air terjun yang sudah terlihat di depan mata. Hasrat ingin nyebur pun sudah di ubun-ubun. Tunggu apalagi. Hehe.

Berenang di area sekitar Curug Pangeran ini nyatanya memang cukup berbahaya. Kolam alami yang terbentuk di bawah air terjun ini memiliki kedalaman kira-kira 3 s.d 4 meter. Di curug lain bahkan ada yang mencapai 7 meter loh! Jadi, bagi yang kurang mahir berenang, disarankan untuk main air di areal yang dangkal saja ya. Pihak pengelola sudah membuat tali pembatas agar para pengunjung lebih waspada.
Berenang... berenang...
Selain itu, sebelum terjun ke kolam renang alami di Curug Pangeran ini, saya sarankan untuk melakukan pemanasan kecil supaya nanti tidak keram. Airnya sangat dingin, jadi sangat berisiko membuat kaki kita kaku (saya ngerasain sendiri hahaha). Kan bahaya ya, lagi asyik berenang eh terus kaki tidak bisa digerakkan. Bisa-bisa tenggelam nanti. Sereeem!

Air Terjun Berwarna Tosca Sebening Kristal

Credit: @_febrian
Taman Nasional Gunung Halimun - Salak merupakan wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Kawasan ini juga melindungi hutan hujan dataran rendah yang sangat luas. Oleh karena itu, di dalamnya terdapat keanekaragaman hayati yang melimpah. Dari yang saya baca di papan-papan informasi, ada aneka fauna seperti elang jawa, macan tutul jawa, dll.

Kembali ke Curug Pangeran. Katanya, curug ini termasuk yang paling populer di antara curug-curug lainnya. Mungkin salah satu alasannya adalah karena ada kolam yang bisa dijadikan spot untuk berenang, sehingga orang-orang jadi tertarik untuk datang kesini. Jadi wajar saja, pada saat weekend, kawasan air terjun ini menjadi cukup ramai.

Air terjun di sini nggak terlalu tinggi. Kira-kira 5 meter lah. Makanya, sebenarnya pengunjung bisa melakukan atraksi terjun dari atas curug ke dalam kolam. Tapi pada saat kita ke sana, katanya nggak boleh (?) Nggak tahu kenapa. Padahal seru yah, bisa memacu adrenalin.

Credit: @_febrian
Dingin dan bening (seperti kristal). Itulah sedikit gambaran untuk Curug yang satu ini. Maka dari itu, sesampainya di sana jangan ragu untuk mandi biar seger (dan biar move on juga insya Alloh). Lalu, air di bagian kolamnya ituloh... berwarna tosca. Serius. Mungkin efek dari hamparan lumut yang terdapat di dasarnya ya. Jadinya keren. Nah, bagi yang punya kamera underwater, bisa banget mengabadikan adegan menyelam di dalam kolam air terjun berwarna tosca ini. Tapi kalau nggak punya ya nggak apa-apa. Harus tetap nikmatin main airnya dan jangan lupa bahagia. 

Saya sendiri langsung nyebur begitu melihat kolam berwarna tosca itu. Nggak tahan. Byurr... Byurrr... Sampai lupa deh belum pemanasan, makanya di tengah-tengah berenang tiba-tiba kaki terasa kaku. Keram karena kedinginan. Hehehe.

Sebagai informasi, untuk masuk ke areal curug ini, pengunjung dikenakan biaya masuk lagi sebesar Rp. 10.000 per kepala kalau nggak salah (maafin ya lupaan). Di kawasan air terjun ini juga sudah tersedia kamar bilas dan toilet. Ada tukang cilok juga (yaterus?).

Kok Ada Ibu-Ibu Penjual Pop Mie Di Air Terjun?

Ramai juga kan?
Serius. Saya kaget. Selain terkejut karena curugnya cukup ramai (padahal beberapa review mengatakan tempat ini cukup sepi), saya juga dibuat kaget karena melihat ada ibu-ibu jualan Pop Mie di depan air terjun (jualannya model asongan). Nggak. Kamu tidak salah baca kok. Si Ibu itu nyata adanya. Beliau duduk membawa dagangan di dekat areal air terjun bersama teman-teman penjual lainnya. Ada yang jual Pop Mie, ada juga yang jual kopi. Lantas, kenapa ini membuat saya kaget?

Ya kaget atuh.

Pertama, saya sebagai pengunjung sebetulnya sangat maklum para ibu itu berjualan. Toh itu adalah mata pencaharian mereka juga ya kan. Sumber rezeki mereka. Lagipula saya juga butuh kopi dan Pop Mie usai main air nanti, karena kedinginan juga kan. Tapi, pada saat yang sama saya juga merasa sangat bingung. Kenapa jualannya persis di depan air terjun atuh... Walhasil, "sisa-sisa" jualan si ibu berisiko mengkontaminasi (alias mengotori) areal tersebut. Sedih...
Tempat ini rasanya bisa dimanfaatkan untuk berjualan
Padahal, jika saya perhatikan. Terdapat tempat kosong dan cukup luas di area bagian atas, yang agak jauh dari curug. Ada abang cilok kok jualan di situ. Dan tempat itupun cukup strategis, karena bertepatan dengan jalur keluar-masuk para pengunjung. Jadi... atulah mohon...

Alasan kedua, seperti yang tadi saya bilang, ini betulan sangat berisiko mengotori sekitar area air terjun. Pada saat berada di sana, saya melihat langsung, gelas-gelas aqua bekas kopi atau cup bekas Pop Mie berserakan di atas bebatuan sekitar air terjun. Masih untung kadang-kadang si ibu pungutin kembali gelas-gelas aqua itu. Tapi ada juga gelas aqua yang jatuh lalu hanyut terbawa air. Yah... jadi sampah, deh.

Nggak hanya sampai di situ. Sisa-sisa kopi dan kuah Pop Mie pun seringkali dibuang langsung ke aliran curug. Duh, sedih nggak? Nanti kalau airnya nggak bening lagi, gimana? Nggak hijau tosca lagi, gimana? Masa air terjunnya nanti rasanya Pop Mie. Kan ya... :(
Alamku... semoga tetap bersih.
Saya sih berharap, masalah-masalah semacam ini bisa menjadi perhatian pihak pengelola. Mungkin, di tempat-tempat lain kasusnya hampir serupa. Semoga dicari jalan tengah. Si ibu masih bisa berjualan, dan alam tetap terjaga. Semoga ya... Amin.

Salam,

jejakjuli.com
_______

*Makasih Bang Febrian (IG: @_febrian) sudah ijinin pinjem foto-fotonya yang badai!!! :)

Comments

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati