Jelajah Mata Air: Curug Cipurut Purwakarta Dan Hari Ketika Tersesat


Ada banyak cara untuk melepas penat. Bagi pejalan paruh-waktu sekaligus buruh penuh-waktu seperti saya, mencari-cari celah waktu untuk pergi berlibur bukanlah perkara mudah. Susah, karena untuk mendapatkan cuti berlibur saja butuh usaha ekstra. Membuat alasan cuti untuk liburan masihlah dianggap hal ganjil, setidaknya itulah yang terjadi di tempat saya bekerja. Padahal, bukankah cuti itu hak dan refreshing juga penting?


Tapi, sebenarnya tidak perlu khawatir. One day trip (ODT) alias perjalanan satu hari saja adalah jalan keluar bagi kita-kita orang yang tidak dianugerahi waktu lebih. Jalan kemana? Mau tidak mau, nggak perlu muluk-muluk. Cukup menujulah ke tempat-tempat wisata terdekat saja. Yang penting sejenak kita  bisa lepaskan pikiran suntuk akibat rutinitas sehari-hari.

Sudah pernah dengar Curug Cipurut Purwakarta? Atau mungkin pernah kesana? Dalam bahasa Sunda, 'curug' berarti 'air terjun'. Air, dalam beberapa aliran agama dan kepercayaan dijadikan sebagai alat penyucian diri, baik untuk menyucikan diri dari kotoran jasmani maupun rohani (seperti kesalahan, dosa, dsb). Syahdan, ritual penyucian diri dengan air ini pun secara psikologis mampu membuat si pelaku merasa lebih 'bersih' setelahnya. Maka, 'ritual' mengguyur diri di bawah air terjun pun lebih kurang memiliki efek psikologis yang hampir serupa. Selain membuat diri merasa lebih bersih dan suci, ritual mandi di bawah air terjun pun dapat memberikan efek stress released, seakan-akan perasaan stres telah terlepas dari badan dan pikiran. Arus air terjun yang kuat menghunjam badan seakan-akan memaksa aura negatif keluar dari tubuh kita. Setidaknya buat saya. Dan itulah kenapa kita sering melihat film-film silat di mana para petarung sakti melakukan pertapaan di bawah air terjun yang deras. Haha.

Curug Cipurut terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Saya harus menempuh kira-kira 2 jam dari Bekasi untuk sampai ke lokasi via jalan tol. Sebelum ke Curug Cipurut, tandanglah ke Sate Maranggi Cibungur yang terkenal lezat itu. Tentu saja saya dan teman-teman sempatkan mampir demi mengisi perut yang kelaparan. Merogoh kocek sekitar 50 ribuan cukuplah sebanding dengan kenikmatan sate sapi yang dibalur sambal pedas khas Sate Maranggi Cibungur. Ulasan tentang Sate Maranggi Cibungur Purwakarta pernah saya catat di sini: Lezatnya Sate Maranggi Cibungur Purwakarta.



Tersesat Di Dalam Hutan

Mengandalkan peta digital (google maps) tidak selamanya berujung baik. Seakan-akan alam ingin bilang, "Enyahlah teknologi!" Haha. Atau barangkali nasib buruk sedang membuntuti kami berempat. Bermodal nekat mengikuti peta digital, akhirnya kami salah masuk desa. Sialan! Akibatnya, kami harus trekking sangat jauh untuk sampai ke lokasi Curug Cipurut. Kelak kita tahu bahwa jika lewat desa yang satu lagi, kita bisa sampai ke curug lebih cepat.
mataku tersenyum~

Pengalaman tersesat ini melelahkan (banget!) tapi sekaligus menyenangkan. Desa yang kami masuki terhitung cukup sepi. Khas gambaran sebuah desa yang asri, pohon-pohon berbaris di kiri kanan dan persawahan hijau membentang di depan mata. Desa Wanayasa, Purwakarta dikelilingi hutan kecil, sehingga amat wajar kita akan temui anjing-anjing hutan wara-wiri di balik pepohonan.

kakiku tersenyum :')

Desa yang satu lagi, bernama Desa Sumurugul, semestinya adalah desa yang kami masuki untuk mencapai lokasi curug Cipurut. Dari desa ini ternyata jarak tempuh tidak terlalu jauh. Baru tahu hal ini ketika pulang dari curug di sore hari, pas kesasar di dalam hutan kecil Desa Sumurugul sampai maghrib! :(

Langitpun mulai gelap, sementara kita belum juga menemukan jalan keluar dari hutan kecil ini. Alhasil, panik dan capeeeek pun menyergap. Saat itu Meta (kujuga)pasti sudah ingin menangiiiis. :(

Tapi, beruntunglah di tengah-tengah adegan nyasar ini, kami (tak sengaja) bertemu Bu Aan, yang tak lain adalah Ibu Ketua RT di desa Sumurugul. Legaaaaa. Bu Aan ini baik betul. Kami dijamu di rumahnya dengan sangat baik. Dikasih camilan dan teh hangat. Bocah-bocah kota yang kesasar ini diperlakukan seperti anak-anaknya sendiri.

Desa Sumurugul ini unik, atau memang karakteristik desa secara umum memang begini adanya ya. Berbeda dengan kaum urban, penduduk desa ini sangat rempug, alias rukun dan kompak. Ketika tersiar kabar ada orang-orang kesasar (yaitu kami), mereka segera gotong-royong ingin membantu. Oalah~

Curug Cipurut sendiri bagus, menurut saya. Sepi dari pengunjung. Kata Bu Aan, curug ini memang baru diresmikan oleh pemda beberapa minggu sebelum kita nyasar. Makanya belum in banget. Makanya juga di sepanjang jalan trekking, susah untuk nemuin papan petunjuk jalan ke curug. Masih alami, sob.

Sampah juga nggak ada. (Dan semoga para pengunjung nggak akan nyampah). Saya lihat juga belum ada pedagang kopi atau popmi di sekitaran curug (I'm watching you Curug Pangeran). Kubersyukur. Walaupun air terjunnya nggak gede-gede amat, tapi lumayan bikin seger. Yang suka jelajah mata air, boleh banget ke sini. Cukup bayar uang kebersihan 5000 rupiah saja, udah bisa manjain mata dengan pemandangan alam yang hijau-hijau plus mandi di bawah air terjun yang segaaaar. Kata Bu Aan sih sebenarnya nggak perlu bayar apa-apa. Tapi gapapa 5000 aja ya kan, buat amal...

dibaca ya kan~

Nah, kalau udah nemu plang kece di atas, bersyukurlah. Karena sumber mata air sudekaaaat. Di dekat curug ada kamar ganti. Seadanya doang, tapi. Pintunya cuma terbuat dari kain. Misal lagi tak berbusana, eh tau-tau angin semriwing hingga kain tersibak, kelar iduplo.

Sepulang dari curug, rajin-rajin deh tanya warga sekitar. Biar nggak nyasar (kaya kita). Karena penunjuk jalan emang masih jarang banget.

Last but not least, this post is dedicated to Bu Aan. Nuhun pisaaaan ya Alloh. Bu Aan idolakuuuuuh. Maret ini diundang sama Bu Aan buat mampir ke sana lagi. Ada panen manggis di sana katanya. Seru banget nggak sih?

Kuy lah! :)))))

Comments

  1. Trekking dan curug memang sekawan yang cocok banget. Ketika curugnya sudah kelihatan otomatis capek mendakinya hilang semua, malah langsung nyebur, lupa sama capek. Apalagi kalau ketemu dengan orang-orang baik, wah tambah lengkap kayaknya pengalaman ke sana Mas, hehe.
    Bagus Mas curugnya ini, jadi pengen ke sana, haha. Maret, ya?

    ReplyDelete
  2. Bagus yaa, masih ijo banget. Semoga para pengunjung yang lain tetap bisa jaga kebersihan ya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati