Review Film The Girl On The Train: Ketika Pengalaman Naik Kereta Tak Lagi Sama

Saya rasa selalu ada episode dalam hidup kita yang begitu memuakkan. Sampai-sampai seringkali itu membuat diri kita kesal, jengah, marah, atau bahkan depresi. Usai menonton The Girl On The Train, saya menyimpulkan bahwa kehidupan Rachel jauh lebih memuakkan dari apa yang (pernah) saya alami. Begitu memuakkannya, hingga muncul kebiasaan aneh yang kerap dilakukan oleh Rachel (Emily Blunt). Saya sebutkan 3 di antaranya: (1). Bolak-balik naik kereta pada jam berangkat dan pulang kerja layaknya pekerja kantoran. Padahal sudah sejak lama ia tidak bekerja karena dipecat. (2). Mengarang-ngarang cerita untuk dirinya sendiri tentang kehidupan orang-orang di luar sana yang ia lihat dari balik jendela kereta. (3). Pemabuk berat.

Emily Blunt memerankan tokoh Rachel dalam film The Girl On The Train
Kombinasi antara depresi dan alkohol bisa melahirkan malapetaka. Setidaknya, itulah yang dialami oleh Rachel. Rachel adalah pecandu alkohol yang teramat parah. Saking parahnya, sampai-sampai ia mengisi tumbler-nya dengan minuman beralkohol alih-alih air mineral. Edan kan?


Rachel tidak dapat melepaskan Tom, mantan suaminya begitu saja. Setiap hari, Rachel mengamati kehidupan Tom dan keluarga barunya dari balik jendela kereta. Bahkan, dalam kesadarannya yang setengah-setengah akibat pengaruh alkohol, Rachel pernah mendatangi rumah keluarga Tom (atau rumah yang pernah ditinggali oleh Rachel dulu) hanya untuk menaku-nakuti Anna, istri baru Tom. Tidak hanya sampai di situ. Rachel juga sangat menikmati aktivitas mengamati salah satu rumah yang berdekatan dengan rumah Tom, yaitu rumah Megan.

Rachel membayangkan jika kehidupan Megan dan suaminya, Scott, adalah contoh kehidupan pernikahan yang sempurna. Rachel menyimpulkan demikian karena seringkali ia melihat kemesraan pasangan itu dari dalam kereta. Tetapi imajinasi itu tidak bertahan lama.

Megan Hipwell dinyatakan hilang dan mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian.

Dan Rachel masuk ke dalam daftar tersangka.

Depresi dan Alkohol

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Paula Hawkins ini setidaknya menitik-beratkan satu isu, yaitu tentang kecanduan alkohol dan bagaimana efeknya terhadap kehidupan seseorang. Semenjak kehidupan pernikahannya dengan Tom berantakan, Rachel mulai menggantungkan hidupnya pada alkohol. Perceraian memperparah kondisi ketergantungannya.

Alkohol membuat hidup Rachel berantakan. Paling tidak, kita bisa membuat daftar beberapa dampak negatif yang harus dihadapi Rachel akibat kecanduannya pada alkohol. Antara lain: (1). Kehilangan pekerjaan. (2). Kehidupan pernikahan berantakan. (3). 'Kewarasan'-nya terganggu.

Poin nomor tiga yang saya sebutkan di ataslah yang kemudian memperkeruh kasus pembunuhan Megan. Pada malam terbunuhnya Megan, secara kebetulan Rachel berada di tempat yang sama dengan Megan. Polisi lantas mencurigai Rachel sebagai pembunuhnya. Tetapi nahas, Rachel tidak tahu apa-apa dan kenyataan itu justru membuat posisinya sebagai tersangka semakin kuat. Alkohol membuatnya teler dan lupa segala sesuatu tentang kejadian malam itu. Di bawah pengaruh alkohol Rachel kehilangan kesadarannya. Yang ia tahu, keesokan paginya Rachel terbangun di dalam kamarnya dalam keadaan berlumur darah.

Sama seperti pada novelnya, film berdurasi hampir dua jam inipun mengambil sudut pandang dari ketiga tokoh kunci: Rachel, Anna, dan Megan. Kita akan melihat kehidupan ketiganya sembari mengira-ngira siapa kira-kira yang telah membunuh Megan. Apakah Rachel sendiri? Atau justru Scott suaminya? Atau mungkin Kemal Abdic sang terapis Megan?

Jawabannya ada pada ingatan Rachel yang hilang akibat pengaruh alkohol malam itu.

Does Having a Baby Matter?

Rachel mulai mengalami depresi ketika mengetahui dirinya tidak bisa memiliki anak. Sejak itu, alkohol menjadi pilihan untuk pelariannya. Lantas, apakah kehadiran anak di dalam rumah tangga merupakan satu hal yang sangat kritikal? Saya tidak tahu karena saya belum menikah. Tetapi menurut saya jawabannya bisa ya bisa juga tidak.

Bagi saya, Emily Blunt memerankan tokoh Rachel dengan begitu memukau. Konon, ia sampai menurunkan berat badannya hingga beberapa kilo demi mendapatkan kesan wajah depresif seorang pecandu alkohol. Sekilas kita mungkin mengira bahwa ketiadaan anak dalam pernikahan Rachel dan Tom adalah pemicu utama depresi bagi Rachel. Jika ditilik lebih jauh, sosok Tom sang suamilah yang justru menjadi pemicu utamanya. Baru selanjutnya mari kita salahkan alkohol sebagai satu faktor lain yang memperparah keadaan.

Let's say it's classic, tapi kenyataannya kepercayaan dan kesetiaanlah yang semestinya bisa menyelamatkan sebuah hubungan, bukan? Well, I'm not expert on this, tapi saya rasa banyak pasangan di luar sana yang bisa bertahan tanpa anak. They struggle holding hands each other in faithfulness. Namun dalam The Girl On The Train, kita bisa melihat bagaimana sosok Tom ternyata tidak mendukung hubungan pernikahan mereka untuk bisa terus berlanjut. Tidak heran ketika akhirnya Rachel memutuskan untuk 'melarikan diri' pada alkohol ketimbang pada sosok suaminya yang demikian.

Selanjutnya, kita juga akan menyaksikan dari sudut pandang lain (Anna dan Megan) bagaimana keberadaan seorang anak mempengaruhi satu hubungan pernikahan. Meskipun, lagi-lagi harus saya katakan bahwa komunikasi dan kesetiaanlah yang memegang peranan yang amat penting. Kok lama-lama saya kayak konsultan pernikahan, ya? Haha.

Demikianlah kombinasi antara masalah-masalah di atas kemudian menyulut konflik-konflik dalam The Girl On The Train seperti perceraian, perselingkuhan, dan kekerasan. Yang kemudian pada akhirnya mengerucut pada satu kasus besar, yaitu pembunuhan.

Akhirnya, usai menonton film ini saya jadi berharap semoga tidak ada Rachel lain di setiap kereta yang saya tumpangi. Cukuplah ini hanya menjadi fiksi belaka.

Salam,

Juli

Comments

  1. Saya belum baca dan belum nonton TGOT. Tapi pas numpang baca di gramed waktu itu. Baru dapet dikit, tapi suka sih sama gaya bahasanya.

    By the way, mau dong konsul masalah dompet keriting

    ReplyDelete
  2. Ikutan reading Challenge buku ini di Ijak Jul, sampe tanggal 7 da.

    ReplyDelete
  3. Nah, di baratpun alkohol mengakibatkan hal yang tidak baik. Alkoholik ternyata bisa menjalar seperti orang kecanduan rokok, kalo kita bergaul dekat dengan mereka.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati