Ketika Bumi Tak Lagi Layak Huni: Sampah Dan Potret Kepandiran Manusia Yang Melampaui Batas [Bagian 1]

Dalam film animasi berjudul Wall-E, diceritakan bagaimana umat manusia akhirnya terpaksa melakukan migrasi ke luar angkasa karena bumi sudah tidak lagi layak untuk dihuni. Kondisi bumi sudah kian mengkhawatirkan dan amat berbahaya bagi kehidupan manusia karena setiap inchi permukaannya telah dipenuhi oleh sampah.

[Image source]
Sampah, setidaknya bisa diklasifikasikan menjadi jenis organik, anorganik, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya Dan Beracun). Dalam kasus Wall-E, tampaknya sampah B3 sudah begitu mendominasi di seluruh permukaan bumi hingga kondisi pencemaran lingkungan sudah berada pada taraf yang sangat ekstrem dan beracun. Ini ditandai dengan tidak adanya lagi satu tanamanpun yang bisa tumbuh.

Tidak ada lagi kehidupan.


Jangan lega dulu. Sebab kondisi semacam itupun sangat mungkin bakal benar-benar terjadi di planet ini. Atau jangan-jangan sudah terjadi di suatu tempat di luar sana?

Nyatanya, menurut data dari United Nations, pada tahun 2014 gunungan sampah elektronik mencapai angka yang luarbiasa, yaitu 41,8 juta ton. Jika dianalogikan, angka tersebut setara dengan 1,15 juta truk berat yang dibariskan di jalan sepanjang 23.000 km. Ya. Itu lebih jauh dari jarak Jakarta ke New York.

Masalah selesai sampai di situ? Tunggu dulu. Dikutip dari National Geographic, sampah plastik yang dibuang dan bermuara ke samudera ternyata dikonsumsi oleh 90% populasi burung laut. Kenyataan yang satu ini barangkali dapat memicu ingatan kita pada kasus spesies burung albatros.

Burung Albatros yang memiliki nama Latin Phoebastria immutabilis adalah jenis burung laut yang luar biasa. Kemampuan terbangnya jangan diragukan lagi. Samudera adalah taman bermain bagi Albatros. Mereka mampu menghabiskan waktu untuk terbang mengarungi samudera tanpa menyentuh daratan dalam waktu yang sangat lama. Hanya saja masalah besar harus dihadapi oleh mereka. Burung Albatros memakan sampah plastik yang ada di lautan.

Sejatinya tidak hanya Albatros, tetapi burung-burung lain pun nyatanya memiliki masalah yang sama. Akibat volume sampah di laut begitu masif, akhirnya mereka keliru mengira plastik sebagai makanan.

Tentu saja seharusnya kita memaklumi hal itu sebab mereka toh tidak secerdas kita: spesies manusia. Konon spesies manusia diberi akal, mereka tidak. Spesies manusia menghasilkan sampah, mereka yang makan. Sesimpel itukah akal kita?

Baiknya kembali ke Albatros. Masalah sampah plastik di laut memberikan dampak paling parah pada kawanan Albatros. Ketika para Albatros meluncurkan paruh mereka di permukaan air untuk menjaring mangsa, alih-alih ikan yang tertangkap, melainkan botol plastik, styrofoam, dan aneka jenis plastik yang dihasilkan oleh spesies manusia yang mereka dapat. Para Albatros dewasa kemudian membawa 'ikan' hasil tangkapan mereka untuk dimakan anak-anaknya. Dan ini diduga kuat sebagai salah satu penyebab kematian para Albatros.

Bangkai Burung Albatros. [Image source]

Chris Jordan, seorang seniman dan fotografer, berhasil mengabadikan fenomena menyedihkan yang dialami oleh kawanan Albatros ini lewat karya foto-fotonya yang sangat menggugah. Sedih, ngeri, terkejut, semua perasaan itu mungkin akan bercampur aduk ketika kita akhirnya mengetahui bahwa sampah yang selama ini kita hasilkan dan tidak kita kelola dengan baik memberikan dampak yang sangat ekstrem pada kehidupan spesies lainnya.

Mari kita telusuri kisah Kura-kura Kosta Rika, jika memang fenomena Albatros di atas tidak cukup untuk membuat akal kita menerima.

Pada 2015, Christine Figgener, seorang pakar kura-kura dari Texas A&M University berhasil menyelamatkan seekor kura-kura besar di pantai Kosta Rika. Kura-kura tersebut terluka akibat sebuah objek menyumbat lubang hidungnya. Objek tersebut menyebabkan kura-kura mengalami kesulitan bernapas.

Pada awalnya, tim penyelamat mengira objek di dalam lubang hidung kura-kura itu adalah semacam parasit. Namun ketika objek ditarik keluar, barulah diketahui bahwa ojek tersebut adalah sedotan plastik. Lucu? Tidak sama sekali. Sedotan sepanjang 10 cm itu sekali lagi membuktikan bahwa kepandiran kita (baca: manusia) telah melampaui batas.

Video penyelamatan kura-kura Kosta Rika tersebut menjadi viral sekaligus menyayat hati bagi mereka para pecinta binatang, utamanya pecinta kura-kura.



[Bersambung]

*Mudah-mudahan kelanjutannya akan segera saya posting. Di antaranya akan membahas rangkaian kegiatan ketika saya main ke markas Waste4Change untuk ikut penyuluhan Akademi Bijak Sampah (Akabis) bersama teman-teman relawan Bebas Sampah 2020. Tentu saja ada bagian ketika kita 'main' sampah dan 'jalan-jalan' ke TPA Bantargebang. Hehe. Selain itu, ada sedikit pengetahuan dari Waste4Change mengenai upaya apa yang bisa kita lakukan agar gunungan sampah maharaksasa di Bantargebang itu bisa berkurang.

Referensi:



Comments

  1. Jadi apa yang bisa kita lakukan supaya setidaknya tidak ada lagi albatros atau kura-kura yang merana gara-gara ulah manusia? Cerita selanjutnya ditunggu ya Mas. Tulisan ini menggugah banget. Penasaran kan saya bacanya, hehe. Itu seram banget melihat foto bangkai albatrosnya, ada korek gas dan itu tidak tercerna. Nggak kuat nonton video si kura-kura, haduh kasihan banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Gara sudah mampir. Kelanjutannya mudah-mudahan segera saya posting. Amin. Hehe.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati