Menengok Pesona Thailand Masa Silam di Muangboran The Ancient City, Samut Prakan Thailand

Seandainya saja ada mesin waktu, sudahlah tentu kita bisa bepergian ke masa lampau dengan begitu mudahnya. Tetapi jika memang ada pun pastilah harga yang harus dibayar untuk menggunakannya alangkah mahalnya, bukan? Orang-orang pun akan berebut menggunakannya, salah satunya barangkali untuk tujuan memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. Atau agar bisa bertemu sekali lagi dengan orang terkasih yang sudah tiada? Hmm...


Namun, tentu saja ada cara lain yang bisa dilakukan untuk napaktilas masa-masa yang telah lewat. Misalnya melalui foto-foto atau rekaman video yang menyimpan momen-momen masa silam. Selain itu, melalui bangunan-bangunan kuno atau prasasti-prasasti, kita juga bisa mengenang sejarah masa silam suatu budaya atau daerah untuk dapat diambil hikmah dan pelajaran. Seperti ketika saya jalan-jalan ke Bangkok tempo lalu, saya berkesempatan menjelajahi Thailand Tempo Dulu melalui wisata sejarah di Muangboran atau lebih dikenal dengan sebutan Muangboran The Ancient City.


Paling gampang untuk menggambarkan seperti apa Muangboran The Ancient City itu, silakan teman-teman membayangkan Taman Mini Indonesia Indah. Tetapi barangkali yang ini lebih luas (dan bersih tertata). Saking luasnya, pengunjung disediakan alat transportasi seperti sepeda dan minicar matic untuk mengelilingi 'taman mini' versi Thailand ini.

Karena penasaran dengan foto-foto bangunan dan peninggalan sejarah yang ada di Muangboran, akhirnya saya putuskan untuk memasukkan Muangboran The Ancient City sebagai salah satu destinasi liburan saya ketika berada di Bangkok. Syahdan, begitu berada di lokasi, saya dibuat cukup terkejut. Ternyata Muangboran adalah tempat yang sangat luas. Dari denah lokasi yang saya dapatkan di loket masuk, saya bisa tahu bahwa ada sekitar 200-an objek peninggalan sejarah yang diabadikan di sana. Dua ratus situs lebih! Luar biasa bukan?

Akses Menuju Muangboran The Ancient City

Bermodalkan googling ala kadarnya, sayapun mendapatkan informasi bahwa untuk menuju ke Muangboran dari pusat kota bisa menggunakan taksi. Catatan lebih lengkap tentang perjalanan saya menggunakan taksi menuju Muangboran, bisa dilihat di tautan ini. Saya memilih menggunakan jasa taksi online (Grabcar) dengan tarif 340 Baht atau sekitar Rp. 125.000.

Sisa perjalanan: Brosur dan denah lokasi Muangboran.
Selain menggunakan taksi, ternyata akses menuju Muangboran The Ancient City bisa menggunakan bus umum. Dari lembar brosur yang saya dapatkan di loket masuk Muangboran, diketahui bahwa kita bisa naik bus No. 511 dari Pinklao-Paknam kemudian menyambung dengan menggunakan mini-bus No. 36 menuju Muangboran The Ancient City. Bingung? Sama. Hahaha.

Menembus Mesin Waktu Hingga Menemukan Tanah Siam Masa Silam

Jika teman-teman pernah jalan-jalan ke TMII, pastilah tahu bahwa di sana banyak sekali kita temukan replika rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia. Saya agak lupa bagaimana detail TMII karena terakhir saya main kesana adalah ketika SD atau SMP. Tapi setibanya di Muangboran The Ancient City, saya segera merasakan sedikit nuansa mirip ketika berada di TMII meskipun tentu saja banyak perbedaan dalam berbagai aspek. Selain rumah-rumah adat, di Muangboran kita juga akan menemukan objek-objek peninggalan sejarah lainnya seperti prasasti, arca, stupa, dan lain-lain.

Salah satu bangunan kuno bersejarah di Muangboran. (dokumentasi pribadi)
Muangboran ditata sedemikian rupa layaknya sebuah desa kecil versi tanah Siam pada zaman dahulu kala. Sehingga ketika memasuki luasnya areal Muangboran, saya seakan menembus mesin waktu menjejakkan kaki di Thailand pada masa silam. Sentuhan nuansa kuno dan tradisional segera menyeruak di sekeliling saya, sehingga pada saat di sana saya sempat menyerukan lelucon kepada teman saya, "Ini seperti sedang di film horor Thailand". Haha.

Kebetulan saya mengunjungi Muangboran pada saat hari kerja sehingga suasana di sana sangatlah sepi pengunjung. Atau memang setiap hari sepi seperti itu? Saya tidak tahu. Tapi memang tampaknya wisata sejarah dan budaya semacam ini kurang diminati oleh penduduk lokal. Selain itu, lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota mungkin menjadi salah satu alasan mengapa peminat Muangboran sangatlah sedikit. Jadilah, sudah luasnya bukan main ditambah suasana kuno nun sunyi senyap, ah... saya benar-benar berada di masa lalu.

Menjelajahi Seni dan Budaya Peninggalan Masa Lalu

Lek-Praphai Viriyahphant, pendiri Muangboran The Ancient City mengatakan:

"Though culture has been regarded as old fashioned, yet it still suitable for human society."

Yang mana kalau kita maknai kalimat di atas, lebih kurang adalah meskipun budaya dianggap ketinggalan zaman, tetapi nyatanya itu masih sesuai bagi manusia dan masyarakat. Viriyahphant membangun Muangboran dengan harapan dunia akan dapat menyaksikan kesenian, adat dan budaya Tanah Siam. Ia juga berharap dengan adanya Muangboran The Ancient City mampu menjadi obat bagi kondisi moral masyarakat yang kian mengalami degradasi.

(dokumentasi pribadi)
Saya menggunakan kendaraan semacam golf car untuk mengelilingi luasnya kawasan Muangboran. Untuk mendapatkannya, saya harus memesan di loket masuk dan dikenakan tarif tambahan. Kalau mau yang gratis, teman-teman bisa menggunakan sepeda yang sudah disediakan. Biaya yang harus dikeluarkan untuk tiket masuk dan sewa golf car ternyata cukup menguras kantong. Haha. Saya agak lupa berapa tepatnya, tapi saya rasa sekitar 750 Baht atau sekitar Rp. 250 ribuan. Menurut keterangan penjaga loket, harga tiket jauh lebih murah kalau pengunjung datang ketika petang. Saya membayangkan malam-malam main ke tempat ini.... ehehehehe saja ya kan.

Memasuki kawasan Muangboran, kita akan disapa oleh pemandangan bangunan-bangunan kuno nun indah serta pepohonan rindang di kiri-kanan jalan. Selain itu, kita juga akan melihat para pekerja lokal yang sibuk membersihkan jalan-jalan di area Muangboran dari daun-daun yang berserakan. Sehingga tak heran jika selain sejuk dan sepi, kawasan Muangboran juga tertata rapi dan bersih.

(dokumentasi pribadi)
Dari 200-an obyek peninggalan sejarah yang ada di Muangboran, beberapa benar-benar diambil dari situs aslinya untuk kemudian direkonstruksi. Sebagian lainnya merupakan replika dari situs aslinya atau diduplikasi berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ada. Saking banyaknya, rasanya tidak cukup waktu sebentar untuk menikmati semua obyek yang ada. Kiranya saya butuh waktu satu jam lebih untuk dapat mengitari kawasan Muangboran The Ancient City. Itupun sepertinya belum semua sempat saya ziarahi karena waktu sudah terlalu sore. Oh ya, di tiap-tiap obyek yang kita datangi dilengkapi plang informasi yang menjelaskan detail bangunan dan sejarah di baliknya. Jadi, hitung-hitung memperkaya wawasan juga, bukan?

(dokumentasi pribadi)

Seru juga naik golf car ini. Walaupun hampir jatuh karena setirnya nggak enak. Haha.

Ini legenda jembatan menuju alam baka bukan ya? Lupa.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan kembali apa yang pernah dikatakan oleh Lek-Praphai Viriyahphant:

"Every piece of art is priceless. They seem to have no nationality, no religion, no limit in time. Only art has bestowed the refreshing spirit on human beings up to the present day."

Salam,

Juli


Comments

  1. Setuju, sih. Dari semua pergolakan dalam arus sejarah yang dikendalikan oleh waktu (dan manusia hanya jadi budaknya saja), yang sampai pada kita secara otentik cuma produk budaya sebagai saksi bisu, entah bangunan atau artefak. Kalau ini kebanyakan rekonstruksi dan pengumpulan berarti Muangboran sendiri bukan situs sejarah aslinya ya, Mas? Hmm... mungkin ini semacam museum cuma outdoor begitu, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Istilahnya museum terbuka lahya. Sulit cari istilahnya. Hehe.

      Delete
  2. Sebenarnya objek wisata kayak gini yang justru menjadi mesin waktu, karena para wisatawan bisa tau sejarah dan masa lalu ya dari objek wisata dan cagar budaya yang dikelola dengan baik

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen ngintil jelajah bareng sama Babang Ijul ~

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati