Belum Tahu Apa Itu "24 Hours Of Reality"? Rugi Loh Kalau Sampai Terlewat

"One day, once a year, we stand up together and demand real solutions to the climate crisis. Because when the world comes together, there is no challenge we cannot overcome."

***


Saya telah mendengar istilah global warming lebih kurang sejak dua puluh tahun silam. Tepatnya semenjak saya mampu baca-tulis, semenjak saya mampu mengenal huruf dan angka. Tapi saat itu saya hanya mendengarnya sambil lalu dari uraian guru-guru, tanpa paham apa arti di balik istilah itu. Global warming? Pemanasan global? Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.


Baru kemudian ketika beranjak dewasa, sedikit demi sedikit saya mulai paham. Saya mulai mengerti apa yang tengah terjadi. Kenapa terik matahari hari ini jauh lebih panas dibandingkan bertahun-tahun silam. Sering sekali saya menyaksikan berita-berita tentang kekeringan di luar sana. Sementara itu di tempat lain, musim hujan semakin tidak keruan, hingga bencana banjir merajalela di mana-mana.

Bumi tidak lagi seperti dulu.

Kondisi 'aneh' yang (telat) saya pahami ini rupanya tidak hanya terjadi di sini. Di luar sana, hampir di semua belahan dunia lainnya, manusia tengah dilanda krisis yang sama akibat Pemanasan Global. Bahkan, banyak sekali yang kondisinya lebih parah dari apa yang dialami Indonesia saat ini.

Kenaikan temperatur berakibat pada emisi debu yang meningkat. (http://www.dw.com/)

Seperti yang dilansir halaman berita DW, negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mengalami pemanasan yang sangat mengkhawatirkan dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Menurut Jos Lelieveld, ilmuan dari Max Planck Institute Germany, kondisi tersebut terjadi akibat tidak tersedianya air untuk mendinginkan temperature tanah ketika musim panas tiba. Alhasil, emisi debu di kawasan tersebut semakin memprihatinkan.

Dari literatur-literatur yang telah saya baca dan melaui film-film yang telah saya tonton, saya baru menyadari satu hal: bahwa tidak hanya mengalami perubahan, bumi tengah mengalami krisis. Krisis ini bernama: Climate crisis. Krisis iklim. Temperatur udara di seluruh daratan dan udara meningkat. Es Arktik tenggelam. Level ketinggian laut meningkat. Dalam film dokumenter terbaru bertajuk "Before The Flood", dikatakan bahwa manusia tengah menuju satu masa yang disebut "Banjir Besar".

Langkah Kecil

"Mikirinnya aja udah bikin pusing!"

Memang. Wajar banget kalau isu global warming ini bikin pusing. Siapa yang nggak pusing coba mengetahui kenyataan bahwa kondisi planet yang kita tempati saat ini semakin kritis?

Dalam ruang lingkup yang luas, penanganan masalah krisis iklim memang memerlukan usaha yang luar biasa besar. Mengapa? Karena masih begitu banyak orang-orang di planet ini yang belum aware terhadap isu yang satu ini. Bahkan banyak para petinggi yang sengaja tidak menggubris bahkan menolak isu Climate Change karena khawatir akan mengganggu bisnis mereka. Makanya, nggak main-main, PBB pun mendaulat Leonardo DiCaprio sebagai Duta Besar Perdamaian khusus di bidang Climate Change. Dengan harapan, Mr. DiCaprio dapat membangun kesadaran individu-individu di luar sana, termasuk para petinggi-petinggi itu. Menyadarkan mereka bahwa isu global warming ini kian mendesak dan perlu diatasi segera.


Lihat juga: Jejak Inspiratif Leonardo DiCaprio

Sebagai individu biasa tentu pengaruh kita tidak akan sebesar apa yang dilakukan Leonardo DiCaprio. Namun, tentu saja kita tetap bisa melakukan sesuatu. Langkah-langkah kecil jika dilakukan secara bersama-sama, tentu akan berdampak besar juga bukan? Salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan bersuara dan menyampaikan informasi terkait isu ini. Saya sempat menulis tentang hal-hal kecil apa saja yang bisa kita lakukan untuk bumi di sini: Tolong Habiskan Makananmu!


24 Hours Of Reality

Pada 5 - 6 Desember 2016 nanti, kita akan menyaksikan kondisi krisis iklim di berbagai negara termasuk Indonesia melalui situs web 24 Hours Of RealityMantan Wakil Presiden Amerika Al Gore adalah pencetus gerakan The Climate Reality Project, di mana misi utamanya adalah untuk membangun kesadaran terkait perubahan iklim kepada tiap-tiap negara dan individu, sehingga setiap dari kita dapat mengambil aksi nyata. Silakan lihat cuplikan aksi 24 Hours Of Reality di bawah ini. Kita akan diajak menjelajahi 24 negara penghasil emisi karbon dioksida tertinggi selama 24 jam pada 5 - 6 Desember 2016. Secara langsung streaming di sini: 24 Hours Of Reality.

 

Di setiap jam nanti, kita akan keliling dunia untuk menyaksikan kondisi beberapa negara yang masuk kategori 24 negara penghasil emisi karbon dioksida tertinggi di dunia. Sekaligus, kita akan diajak untuk melihat krisis lingkungan apa yang tengah terjadi di sana dan langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Ironisnya, salah satunya adalah negara kita Indonesia. Yuk, kita lihat ada negara apa saja:

1. Argentina
https://www.24hoursofreality.org/
Kita akan mengetahui bahwa peningkatan level air laut terjadi paling parah di Argentina dibandingkan laut-laut di seluruh dunia. Lalu bagaimana Argentina menangani masalah sebesar ini?

2. Jepang

https://www.24hoursofreality.org/
Jepang yang cukup terkenal dengan kekayaan lautnya yang melimpah, terancam akibat menghangatnya temperatur permukaan air laut. Apa upaya Jepang untuk mengatasi krisis ini?

3. China
https://www.24hoursofreality.org/
Selain diklaim sebagai negara penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia, China juga merupakan negara no.1 konsumen batu bara di dunia. Tapi, China kemudian mulai melakukan perubahan nyata dengan menggalakkan penggunaan energi surya dan angin.

4. Indonesia


https://www.24hoursofreality.org/
Kita semua pasti tahu bahwa deforestasi adalah masalah paling mendesak di negara kita Indonesia. Hutan-hutan dibabat habis bahkan dibakar semena-mena untuk keperluan pembukaan lahan. Kekacauan tersebut dilakukan demi keperluan bisnis semata. Bagaimana Indonesia mengatasinya?

5. India

https://www.24hoursofreality.org/
Sekitar 300 juta orang di India tidak mendapatkan akses listrik. Bagaimana cara India untuk mengatasi permasalahan ini melalui pemanfaatan energi terbarukan?

***

Demikian sedikit cuplikan yang bisa saya buat pada kesempatan kali ini. Sebetulnya masih banyak uraian yang ingin saya sampaikan. Tapi semoga melalui ulasan singkat ini, teman-teman mulai tergerak untuk ikut bersuara demi planet tercinta ini.

Jangan lupa ya stay tune di 24 Hours Of Reality. Catat waktu dan tanggalnya: 5 - 6 Desember 2016. Pukul 11.00 PM WIB (5 Des) s/d 10.00 PM WIB (6 Des).

Help spread the word. Every share matters. 

Salam,

Juli

Comments

  1. Dan beberapa gedung di China sudah didesain ramah lingkungan dan hemat energi. Mulai dari penataan ruangannya yang mudah untuk mendapat cahaya matahari langsung, hingga tidak perlu menggunakan lampu. Kemudian, membangun konsep taman di beberapa spot, serta membuat instalasi angin secara langsung agar mengurangi penggunaan AC. Belum lagi, mereka menggunakan kran air, sampai flush water toilet yang dimodifikasi agar hemat air.

    Dan gedung-gedung tersebut memang harus disertai dengan ISO untuk ramah lingkungan. Jadi, gerakan di China memang nyata, bukan sekadar rencana.

    FYI. Ada dua gedung, yang tampaknya kosong dari luar, tapi ternyata gedung tinggi tersebut yang kalau dari luar terlihat seperti kantor, ternyata digunakan untuk tempat tinggal para tuna wisma. Di China.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati