Jejak Inspiratif Leonardo DiCaprio Dan Sebuah Upaya Kecil Untuk Menyelamatkan Bumi Yang Tengah Kritis

Adegan sepanjang masa. Sumber: http://stamfordresearch.com/

Siapa yang tidak tahu judul film di atas? Teman-teman semua pasti tahu ya. Hehe.

Saya yakin hampir semua orang sudah pernah menonton film Titanic. Bahkan mungkin ada yang sampai berkali-kali. Adegan Jack saat memeluk Rose di geladak kapal seperti gambar di atas barangkali salah satu adegan film yang bakal dikenang sepanjang masa. Nggak terhitung berapa banyak parodi dan meme yang telah dibuat dengan gaya ala-ala adegan di atas. Bahkan ada pasangan-pasangan yang menggunakan gaya itu buat foto prewed mereka. Haha.

Hmmm, sampai di situ saja ya tentang Titanic nya. Karena artikel ini saya buat bukan untuk membahas secara khusus adegan-adegan romantis antara Jack dan Rose. Tapi lebih dari itu, saya ingin kupas lebih dalam tentang sosok di balik pemeran tokoh Jack, seseorang bernama Leonardo DiCaprio. Dan keterkaitannya dengan kondisi bumi saat ini.

Leonardo DiCaprio pada Konferensi Iklim 2014. Lihat video di Youtube

Pada September 2014, Leonardo DiCaprio resmi didaulat sebagai Duta Perdamaian PBB yang berfokus pada masalah perubahan iklim. Dalam Pembukaan Konferensi Iklim 2014, Mr. DiCaprio menyampaikan kalimatnya yang amat memukau:
"Sebagai aktor, pekerjaan saya adalah berpura-pura. Saya memerankan karakter fiktif yang terkadang memecahkan masalah fiktif. Saya percaya umat manusia telah melihat perubahan iklim dengan cara yang sama." (1)

Pemanasan global, kenaikan temperatur bumi, dan perubahan iklim barangkali merupakan serangkaian isu yang kedengarannya terlampau besar atau bahkan di luar nalar. Termasuk bagi saya pribadi, tapi itu dulu. Isu-isu tersebut bahkan tampak sejajar dengan film-film fiksi ilmiah yang biasa kita tonton di layar bioskop pada akhir pekan. Kita melihat dan mengetahuinya, tapi menganggap itu hanya imajinasi belaka.

Boleh jadi juga, orang-orang memandang perubahan iklim layaknya melihat sebuah lukisan abstrak. Sangat sulit dimengerti, tetapi sesungguhnya di dalam lukisan tersebut terkandung sesuatu yang amat besar.

Mendengar nama Leonardo DiCaprio pasti langsung membawa kita pada kenangan kisah cinta yang amat memilukan antara Jack dan Rose di film Titanic. Sebuah kapal raksasa yang menampung banyak manusia mengarungi samudera yang amat luas. Tanpa disadari, gunungan es raksasa menjulang tinggi tengah menunggu di depan sana. Begitu kapal raksasa tersebut menabrak gunung es, kapal tersebut terjungkal hingga semua penumpang berbondong-bondong menyelamatkan diri mereka masing-masing. Tapi naas. Hampir semua penumpang tewas ditelan samudera.

Jika direnungi lebih dalam, apa yang kita hadapi terkait perubahan iklim serupa dengan apa yang dihadapi oleh para penumpang Titanic sebelum mereka menabrak gunung es. Kita adalah penumpang kapal yang tidak tahu atau bingung bahwa di depan sana ada bencana iklim yang mengintai, sampai akhirnya bencana tersebut benar-benar berada di depan mata.

Dalam film dokumenter terbarunya yang bertajuk "Before The Flood", Mr. DiCaprio mengajak kita melihat kondisi bumi yang tengah kritis secara lebih dekat. Kondisi iklim yang ekstrem, banjir, kekeringan, dan kutub yang terus mencair; secara nyata membuktikan bahwa kondisi Bumi telah semakin rapuh dan mengkhawatirkan. Kita melihat, sekeras apapun para politikus dan pebisnis menyangkal fenomena global warming tersebut hanya demi kepentingan bisnis mereka semata, pada akhirnya realitas kondisi alam tetap memukul dengan amat keras tepat di wajah mereka.

Bermula Dari Kecemasan

Kira-kira empat tahun yang lalu, saya adalah mahasiswa teknik yang menjalani magang di sebuah perusahan tambang di daerah Kalimantan. Aktivitas magang itu mengharuskan saya mengunjungi kawasan tambang batubara setiap harinya. Kali pertama saya menginjakan kaki di atas lahan tambang yang gersang, segera terbersit dalam benak saya: Bumi sedang kritis.

Bumi makin kritis. Sumber: http://www.mongabay.co.id/
Saya segera membayangkan bahwa lahan tambang gersang yang sedang dikeruk habis oleh alat-alat berat di depan mata saya itu dahulunya adalah hutan hijau yang sangat lebat. Kemudian semua itu dibabat habis (atau mungkin dibakar) untuk keperluan bisnis batubara yang murah, demi mengisi perut kapitalis mereka. Jutaan batang pohon ditebang, jutaan molekul karbon dioksida (yang merupakan salah satu gas rumah kaca) terlepas ke atmosfer. Bumi benar-benar kritis.

Meskipun dalam aturannya, pengelola tambang diwajibkan melakukan penanaman kembali lahan-lahan mati itu, nyatanya aturan hanyalah berakhir menjadi aturan semata. Ya, barangkali memang ada beberapa yang berusaha patuh pada aturan tersebut, tapi tak jarang lebih banyak dari mereka yang justru hanya melaksanakan aturan secara formalitas semata. Asal tanam, asal saja. Lagipula, butuh waktu berapa lama untuk menjadikan lahan mati itu menjadi hijau kembali? Menunggu sampai bumi benar-benar mati?

Kecemasan itulah yang masih terus saya pelihara hingga saat ini. Pun sampai detik ini saya juga berkomitmen untuk tidak pernah berurusan lagi dengan pekerjaan di bidang tambang atau semacamnya.

Eksistensi Leonardo dan komitmennya dalam kelestarian alam tentu saja mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Saya kebetulan adalah pengikut setia film-film Leonardo DiCaprio. Walaupun umur saya masih terhitung 20-an, tapi kalau ada kuis tebak-tebakan  judul film yang pernah diperankan oleh Leo, boleh deh saya diadu. Hehe. Mulai dari 'What's Eating Gilbert Grape' (1993) sampai 'The Revenant' (2015), hampir semuanya sudah saya tonton. Bahkan beberapa film Leo saya tonton ulang berkali-kali

Tapi lebih dari itu, Leo bukanlah sekadar seorang penghibur. 

Jika Leo, dengan figurnya sebagai aktor dapat membangun kesadaran orang-orang tentang Perubahan Iklim, maka saya sebagai blogger biasa pun pasti bisa melakukan sesuatu. Meskipun barangkali apa yang saya lakukan tidak berpengaruh besar seperti Leo. Paling tidak, saya bisa mulai membangun kesadaran dari diri saya sendiri dan orang-orang terdekat saya.

Buku, Seni-Budaya, Catatan Perjalanan dan Alam

Saya baru merintis kembali blog ini beberapa bulan lalu. Harapan saya dalam menulis blog cukuplah sederhana, yaitu selain sebagai wujud ekspresi (baca: curhat), juga supaya kecemasan yang saya miliki dapat dibaca dan diketahui pembaca. Konten-konten yang saya tulis antara lain seputar buku, seni-budaya, dan catatan perjalanan. Saya juga menulis hal-hal kecil tentang alam secara sederhana agar mudah dipahami. Seperti salah satu tulisan saya yang berjudul "Tolong Habiskan Makananmu!" misalnya, yang membahas upaya kecil apa saja yang bisa kita lakukan untuk kelangsungan Bumi.

Keempat topik tersebut bagi saya memiliki benang merah antara satu dengan yang lainnya. Buku sebagai alat untuk melihat dunia dari sudut pandang lebih luas. Seni-budaya untuk kontemplasi. Perjalanan dan alam tentu saja merupakan sarana bagi saya untuk melihat realita.

Lukisan bertajuk 'The Garden of Earthly Delights' karya Hieronymus Bosch
dianggap telah menggambarkan secara simbolis kehidupan umat manusia yang
terbagi menjadi tiga adegan pada ketiga panelnya. Adegan 1: Penciptaan.
Adegan 2: Aktivitas manusia yang melampaui batas. Adegan 3: Kehancuran
umat manusia akibat ulah mereka sendiri. (www.beforetheflood.com)
Dalam film The Revenant, di mana Leo menjadi tokoh utamanya, kita bisa melihat bagaimana aktivitas perburuan kulit binatang itu mengorbankan banyak hal. Punahnya spesies-spesies hewan, kerusakan habitat, hingga hancurnya kebudayaan pribumi menjadi dampak akibat proses eksploitasi alam. Semua itu terjadi akibat keserakahan dan kebuasan manusia semata.

Saya selalu berpikir bahwa meskipun mungkin kita tidak memiliki pengaruh cukup besar dan kuat untuk menghentikan eksploitasi semacam itu, tapi pasti selalu ada cara. Selalu ada cara untuk menjaga bumi, meskipun dalam ruang lingkup yang lebih kecil: lingkup individu.

Bersuara melalui Blog: Sebuah upaya kecil untuk bumi yang tengah kritis

Jika ada pertanyaan, "Untuk apa membuat blog?", mungkin jawaban saya akan terdengar klise: saya ingin menulis untuk bumi. Saya ingin sekali merintis sesuatu yang memiliki kontribusi untuk lingkungan. Ya, meskipun pengaruhnya tidak sebesar seorang Leonardo DiCaprio, paling tidak melalui tulisan-tulisan di blog saya kelak, teman-teman pembaca bisa memahami kondisi alam saat ini. Selain itu, tentu saja saya akan menulis apapun yang saya sukai di dalam blog saya, yang tentu masih berkaitan dengan tujuan utama saya membuat blog ini. Seperti tentang buku, seni-budaya, dan perjalanan. Saya juga mulai merintis aksi untuk bumi ini di Facebook melalui fanpage "Hai, Juli".

Tapi, sejujurnya saya masih sering bingung: Bagaimana sih cara membuat website?

Dengan latar belakang saya yang bukan ahli di bidang informatika, saya kerap bingung tentang bagaimana cara membuat website. Paling, selama ini saya mentok di Blogger atau Wordpress saja. Hehe. Padahal, saya berharap upaya sosialisasi yang saya lakukan terkait lingkungan ini dapat lebih maksimal dengan memiliki domain atau website sendiri. Seorang teman menyarankan untuk membaca panduan-panduan mengenai cara membuat website sendiri di internet. Ternyata banyak ya. Dan kelihatannya nggak terlalu sulit.

Di DomaiNesia, saya baca dengan teliti langkah-langkah membuat website sendiri. Untuk para developer mungkin membuat suatu website adalah perkara mudah. Nah, bagaimana dengan saya yang masyarakat awam? Apakah diperlukan skill khusus dalam bahasa pemrograman? Apakah ada setting-setting khusus yang perlu dipelajari?
Membuat website di Domainesia. (https://www.domainesia.com/)
Setelah selesai membaca panduan cara membuat website di DomaiNesia, kekhawatiran saya akhirnya terjawab juga. Ternyata DomaiNesia punya fitur yang namanya Instant Deploy DomaiNesia. Melalui fitur Instant Deploy DomaiNesia ini, kita nggak perlu mengerti tentang bahasa pemrograman untuk membuat website sendiri.

Jadi, saya nggak perlu lagi deh susah-susah membangun website dari nol. Saya cukup pilih kategori website yang diinginkan, membeli hosting dan domain, serta memasukkan email dan password untuk mengelola website. Harganya juga relatif terjangkau. Beres deh website yang saya inginkan. Mudah dan simpel ya ternyata.


Membuat website dengan mudah di DomaiNesia. (https://www.domainesia.com/)
Lega deh. Paling tidak, satu mimpi saya untuk bisa punya website sendiri yang membahas segala hal tentang lingkungan bisa terwujud. Semoga dengan website tersebut, suara saya jauh lebih terdengar sehingga bisa membangun kesadaran teman-teman pembaca.

Akhirnya, saya rasa saya telah mengambil terlalu banyak dari alam. Maka saya pikir inilah cara yang tepat untuk mengembalikannya. Ah, saya jadi ingat pidato Leonardo DiCaprio pada Hari Bumi 2016:
"Sekarang adalah kewajiban kita - kamu adalah harapan terakhir dan terbaik untuk bumi. Kami memintamu untuk melindunginya. Atau kita, dan semua kehidupan yang sangat kita sayangi, akan tinggal sejarah belaka." (2)

Salam,

Juli

---*
Keterangan kutipan:
(1) Leonardo DiCaprio's 2014 UN Climate Summit Speech
(2) Leonardi DiCaprio's Speech on Climate Change, April 2016

Comments

  1. Make a better world for you and for me...memulai dengan menanam tanaman di rumah, berdayakan lahan sempit dengan tanaman2 dengan media pot.

    Langkah kecil...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati