Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut...
Tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya
di malam hari... menuju pagi... 
Sedikit cemas... banyak rindunya...

Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan - Payung Teduh

***

Bolehlah sambil menulis ini, saya putar sebuah lagu syahdu milik Payung Teduh, demi membangunkan kembali ingatan tentang perjalanan yang saya lakukan beberapa waktu lalu bersama Indonesia Corners keliling Jakarta. Mengapa? Kok sendu? Haha. Tidak sendu sih sebenarnya. Tapi lebih merasa melankolis saja. Lantaran selepas dari perjalanan itu saya baru sadar, "Jakarta ternyata puitis juga ya."

Dalam lukisan yang bertajuk "Starry Night Over The Rhone", Van Gogh menggambarkan dengan begitu romantis panorama sungai Rhone pada malam hari yang penuh kerlap-kerlip. Riak air sungai yang kelam memantulkan cahaya bintang dan lampu-lampu di atasnya. Bisa dibilang, sensasi yang saya rasakan ketika berada di puncak Monas yang tinggi itu mirip-mirip ketika Van Gogh memandangi Sungai Rhone di malam hari. Bedanya, saya menikmati kerlap-kerlip cahaya itu dari ketinggian ratusan kaki. Dan gemerlap cahaya yang direkam oleh mata saya berasal dari pancaran sinar lampu kendaraan, rumah-rumah, mal, dan barisan lampu penerang jalan. Bukan berasal dari sekelompok bintang yang memang tampaknya malu-malu untuk muncul pada malam itu. Saya berada di titik pusat ibukota, sementara Van Gogh mungkin saat itu sedang duduk di tepi Sungai Rhone sembari minum teh atau kopi. Hanya saja, sama-sama romantis, bukan? Haha.


Starry Night Over The Monas??? :/

Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di puncak Monas. Bisa bayangkan kan betapa antusiasnya saya. Haha. Sesungguhnya, sebelum ini saya pernah mengunjungi Monas beberapa tahun silam. Hanya saja, sayangnya pada saat itu saya tidak keburu sampai ke puncaknya karena sudah tutup. Huhu. Makanya, begitu sampai di puncak Monas (plus bonus pada malam hari pula!), senyum lebar langsung terbit di muka saya yang sudah kucel tidak keruan. Langsung lupa juga kalau seharian ini sudah capek mengitari Jakarta.

Panorama Jakarta di malam hari dan angin sejuk langsung menyapa kehadiran saya dan teman-teman Indonesia Corners begitu tiba di puncak. Bisingnya ibukota seakan-akan diserap oleh gemuruh angin, hingga yang tersisa hanyalah sunyi yang merdu dan menenangkan.


Jakarta Mungkin Terbuat Dari Secangkir Kopi

Jakarta mungkin terbuat dari secangkir kopi. Kita seringkali menikmatinya terlalu tergesa-gesa pada saat masih panas. Sesaplah secara perlahan. Barangkali kamu akan menemukan Jakarta yang berbeda. Jakarta yang hangat. Jakarta yang menenangkan.




Bapak Penjual Kerupuk di Tengah-Tengah Megahnya Lalulintas Ibukota

Sehari bersama Indonesia Corners membuat saya mengenal Jakarta lebih dekat. Jakarta tidak melulu tentang demo, kerusuhan, dan kriminalitas, yang seringkali ditampilkan di layar kaca. Jakarta adalah semangat bapak penjual kerupuk yang mengayuh sepeda melintasi mobil-mobil mewah. Jakarta adalah keringat ibu penjual bandana bermotif bunga-bunga di tengah-tengah keriuhan Kota Tua. Romantika ibukota pun saya temukan ketika berkeliling bersama teman-teman Indonesia Corners dengan menggunakan bus tingkat City Tour Transjakarta. Gratis namun romantis!


Potret Wajah Ibukota dan Upaya Membangun Jakarta

Ibu Penjual Bandana Bunga-Bunga Di Kota Tua

Jakarta adalah rumah bagi segala perbedaan. Di Jakarta, kita bisa menemukan segala jenis manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari perbedaan etnis, ras, dan juga agama. Ada yang miskin ada yang kaya. Ada pedagang kaki lima, ada eksekutif muda. Jakarta boleh dikata adalah miniatur Indonesia dari segi sosial-budaya. Kendatipun demikian, semua perbedaan itu terangkum menjadi padu yang justru membuat Jakarta kian unik dan menarik. Makanya, bukankah sayang sekali kalau keunikan itu dilewatkan begitu saja tanpa kita abadikan?

Nah, salah satu cara mengabadikan keunikan wajah ibukota adalah dengan memotretnya. Seringkali momen-momen berharga justru terabaikan oleh mata. Seringkali juga makna yang dalam justru tersirat pada sesuatu yang tidak kita hiraukan. Padahal, dengan menangkap momen-momen tersebut, kita juga bisa menjadi salah satu agen perubahan dalam membangun kota Jakarta. Loh kok bisa? Gimana caranya?


Sosialisasi di Markas Jakarta Smart City

Sebenarnya sih saya juga baru tahu hal ini ketika diajak oleh Indonesia Corners mengunjungi markas Jakarta Smart City. Kudet amat, Jul. Haha. Markas yang isinya anak-anak muda kreatif ini berada di kawasan Balaikota DKI Jakarta. Masih dekat-dekat dengan Monas deh pokoknya. Serius, tempatnya keren plus canggih parah! Salah satu aktivitas mereka adalah memantau kota Jakarta dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.


Ruang Pantau Jakarta Smart City

Melalui web Jakarta Smart City, kamu bisa mengakses begitu banyak informasi penting terkait Jakarta. Mulai dari harga tanah di Jakarta, harga barang-barang pokok di pasar, sampai laporan harta kekayaan penyelenggara negara pun bisa kamu akses di sana. Jadi, kamu bisa memantau kinerja lembaga pemerintahan di Jakarta hanya dengan satu klik secara realtime. Wow, transparan sekali ya!

Memantau Harga Pangan di Pasar Tanah Abang Melalui Web Jakarta Smart City
Selain itu, seperti yang sudah saya katakan di atas, masyarakat juga bisa ikut terlibat dalam upaya membangun Jakarta. Nah, lewat aplikasi Qlue yang bisa diunduh di Playstore, Jakarta Smart City menyediakan sarana bagi mereka, baik warga Jakarta atau Non-Jakarta yang sering beraktivitas di Jakarta untuk menyampaikan segala keluhan terkait ibukota. Tinggal foto dan kirim melalui Qlue, pengguna sudah turut serta dalam upaya membangun Jakarta. Keluhan-keluhan yang bisa disampaikan antara lain: kemacetan lalu lintas, masalah kebersihan, jalan rusak, masalah fasilitas umum, dan masih banyak lagi. Sebagai fasilitator, teman-teman dari Jakarta Smart City akan memantau semua keluhan kamu dan meneruskannya ke institusi-institusi terkait untuk ditindaklanjuti. Canggih kan?

Laporan Sampah Menumpuk Oleh Pengguna Aplikasi Qlue
Semua keluhan yang disampaikan oleh pengguna aplikasi Qlue bisa kamu pantau juga di web Jakarta Smart City untuk mengetahui apakah masalah-masalah tersebut sudah ditangani. Icon berwarna merah menandakan bahwa masalah belum ditangani, kuning berarti sedang on progress, dan hijau berarti sudah beres.

Nah, kalau sudah ada sarana keren kayak gini, sayang banget kan kalau nggak kita manfaatkan. Mulai saat ini kalau main ke Jakarta, langsung saja foto ini-itu kalau kiranya di perjalanan menemukan ada masalah, lalu laporkan deh melalui Qlue. Gampang kan? Jangan lupa juga siapkan 'senjata'-nya: smartphone kamera dan power bank! Saya pakai power bank Asus ZenPower Ultra biar bisa nge-charge cepat tapi tetap tahan lama. Nggak lucu dong, ada momen bagus yang bisa difoto tapi handphone-nya mati. Huhu~

Menangkap Momen Berharga Dengan Praktis

Ada pepatah mengatakan "A picture is worth a thousand words". Sebuah gambar bisa menceritakan banyak hal. Sebuah gambar bisa memiliki makna yang dalam dan beragam. Dalam dunia modern seperti sekarang ini, gambar atau foto bahkan bisa digunakan untuk menyampaikan keluhan atau kritik yang membangun.


Bapak Penjual Terompet Mainan di Kota Tua Jakarta

Saya sendiri tidak pernah lupa menyempatkan waktu untuk menangkap momen-momen berharga ketika berkunjung ke suatu tempat. Termasuk pada saat jalan-jalan keliling ibukota bersama Indonesia Corners beberapa hari yang lalu. Karena sangat suka dengan tema human interest, makanya objek yang sering saya tangkap biasanya tak jauh-jauh tentang aktivitas orang-orang di suatu tempat. Tapi hobi memotret saya ini seringkali terkendala dengan gadget yang tidak memadai.


Megahnya Museum Fatahillah, Kota Tua Jakarta

Sebelumnya saya biasanya membawa kamera DSLR untuk menangkap momen-momen berharga setiap berkunjung ke satu tempat. Tapi memang tidak praktis sih. Apalagi kalau rentetan kegiatan yang harus dilakukan pada saat jalan-jalan sangat padat. Maka, satu-satunya jalan adalah menggunakan kamera smartphone. Lebih praktis.

Menggunakan kamera smartphone untuk foto ini-itu memang lebih praktis, tapi tentu ada kelemahan. Apalagi kalau handphone yang dipakai adalah kategori entry-level seperti yang saya bawa ketika jalan-jalan kemarin. Hasil fotonya, kalau nggak buram ya gelap. Haha!

Ruang Tamu, Balaikota DKI Jakarta

Tapi saya dengar beberapa waktu lalu Asus baru saja merilis smartphone yang sangat cocok buat mereka yang suka fotografi. Masa sih?



Desain Elegan Asus ZenFone 3 (link)

Asus ZenFone 3 yang baru itu dipersenjatai dengan kamera utama 16MP Sony Exmor RS IMX298, lengkap dengan Optical Image Stabilization 4-axis, yang artinya hasil tangkapan kamera akan sangat stabil. Terus, kamera Asus ZenFone 3 juga dilengkapi dengan teknologi mutakhir TriTech auto-focus yang bikin kita bisa mengambil gambar dengan auto-fokus yang sangat cepat, bahkan pada objek yang bergerak. Berarti gambar yang saya tangkap nanti nggak akan buram lagi dong ya? Waaaaah! Nah, buat yang hobi selfie juga jangan khawatir. Kamera depan  8MP sudah cukup banget lah ya buat seru-seruan. Hasil foto pasti jernih tuh.

Tapi buat apa kalau punya smartphone yang jago motret, tapi lemot?

Tunggu dulu. ZenFone 3 ini ternyata pakai prosesor octa-core Qualcomm Snapdragon 625. Plus RAM-nya juga nggak main-main: 4 GB! Lincah banget dong ini mah. Terus, buat tempat penyimpanan foto-foto beresolusi tinggi yang akan saya ambil nanti, Asus ZenFone 3 mmenyiapkan internal storage sebesar 64/32 GB. Itu juga masih bisa di-upgrade pakai Micro SD sapai 128 GB.

Tapi ya tapi, saya adalah tipikal orang yang pilih-pilih banget kalau mau beli smartphone baru. Selain dari sisi teknologinya, saya juga merhatiin banget masalah desainnya. Kalau teknologinya canggih bukan main tapi desainnya, maaf, norak, saya langsung nggak nafsu beli. Sombong ya Jul. Haha. Eh tapi serius. Kalau desainnya keren, kan jadi pede ya mau dibawa kemana-mana gitu.

Nah, tapi pas lihat foto penampilan ZenFone 3 yang baru ini di web ASUS, bawaannya langsung pengen ganti handphone nggak sih? Cakep banget soalnya aaaak! Simpel tapi elegan. Pilihan warna yang paling saya suka adalah Moonlight Light, Shimmer Gold, Aqua Blue, dan Sapphire Black. Semuanya itu mah, Jul. Haha iya.


Menutup Hari Dengan Rasa Syukur


Jakarta Malam Hari
Perjalanan saya berkeliling ibukota bersama Indonesia Corners ditutup dengan menikmati pemandangan Jakarta malam hari dari puncak Monas. Tidak bisa tidak, memandangi kerlap-kerlip cahaya lampu berselimutkan kegelapan dari atas ketinggian itu membuat saya seketika merasa melankolis sekaligus puitis. Saya segera membayangkan, barangkali saja di salah satu rumah yang lampunya tidak menyala di bawah sana, ada seorang ibu yang anaknya sedang sakit namun tidak punya uang untuk membeli obat. Sebagaimana Joko Pinurbo menuliskan "Ibu Yang Tabah" dalam puisinya:
... Malam hari diam-diam ia memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anaknya ketika mereka sakit...

Pada malam itu, saya berpikir bahwa Jakarta mungkin adalah "Ibu Yang Tabah", yang diciptakan oleh rasa sakit, tangis, caci maki, atau juga rindu. Tetapi saya juga yakin bahwa Jakarta pastilah dipenuhi oleh rasa syukur. Rasa syukur mereka yang terus bekerja untuk membangun Jakarta, yang membuat Jakarta tetap tegak berdiri hingga saat ini, esok, dan sampai kapanpun juga.

Salam,

Juli


"Ibu Yang Tabah" tetap Tegak Menjulang Tinggi

----*

Tulisan ini diikutsertakan dalam Jakarta Night Journey Blog Competition oleh Indonesia Corners yang disponsori oleh Asus Indonesia

Comments

  1. paling romantis pas naik ke atas puncak monas malem-malem gitu!
    DUH YA ALLAH!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada foto Bena juga pas neropong di puncak Monas. Tapi ga gue upload. Belum sempet ijin ke lo soalnya. Hehe.

      Delete
  2. Replies
    1. Hayuk atuh keliling Jakarta pakai bus city tour. Seru!

      Delete
  3. Ternyata Abang yg satu ini puitis sekali.. haha..

    Perjalanan tak terduga..

    ReplyDelete
  4. Hai, Ka Ijul! :p
    Aku dulu pengen ikutan ini juga, tapi nyebelinnya nggak bisa karena aku kuliah :((
    Foto Ka Ijul (nyempil) sempet ada di grup blogger yg aku ikuti hihi. Temen temen di sana pada share foto, dan aku tau bangeettt kalo itu Ka Ijul!

    Huwaaaa aku belom pernah ke puncak monas. Pengen bgt rasanya liat Jakarta dari atas situ pas malem malem. :')

    Asus emang keren lah teknologinyaaa. Laptopku aja awet bgt nih padahal sering terombang ambing kegencet sana sini dengan lautan manusia di commuter line._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asus itu harganya terjangkau tapi awet ya.Terim kasih ya sudah mampir, Matun. :)

      Delete
  5. ahaiiii, aku ikut syahdu nih bacanya :)

    ReplyDelete
  6. Saya suka tulisannya, bagaimana human interest diangkat sebagai perhatian terhadap manusia sebagai makhluk yang kompleks, tapi di akhir ditutup dengan pemandangan makro sebuah kota yang terus berdetak dari ketinggian seratus lima belas meter dan ikon-ikon yang bergerak di layar JSC. Perpaduan yang mantap. Semoga sukses dengan lombanya!
    Oh ya, jika Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum, maka Jakarta lahir ketika Tuhan sedang romantis yak, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak berani kalai bilang, Tuhan menciptakan Jakarta ketika sedang cemberut. Nanti bisa didemo. Haha. Tapi yang pasti pada Jakarta segala macam rasa berpadu yang membuatnya seperti puisi.

      Terima kasih Mas Gara atas kunjungannya. :)

      Delete
  7. Tulisannya puitis sekali, jadi bikin baper ngebacanya.Oh Jakarta, kau memang menimbulkan sejuta kesan kepada para penduduknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Dina, terima kasih telah bersedia mampir. :)

      Saya termasuk orang yang sinis kepada si Ibukota... dulu... Tapi saya lihat sekarang Jakarta banyak berbenah dan berubah. Hehe

      Delete
  8. Replies
    1. Lia kapan2 ngetrip bareng lah. Hehe. Makasi ya Lia udah mampir. :)

      Delete
  9. Baca judulnya udah bikin melankolis :D hihihi. Kita ke Kota Tua bareng yuuuk, kemaren kecepetan kayaknya seru kalo bisa seharian di sana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh, kapan2 ajak keliling bandung atuhlah.

      Btw makasi teh udah mampir. :)

      Delete
  10. aaaak payung teduh memang meneduhkan di kala panasnya kota jakarta :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mas. Biar hati tetap teduh juga. Eh.

      Delete
  11. Ada mba Dona imelda dan Mas Agung di foto tersebut. Jadi, memang demikian adanya ya, Jakarta ketika dinikmati dengan santai dan tenang, bisa menampilkan wujud berbeda.

    BTW itu hape baru Bang? Asoy lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Donna sang Mamak Suri. Hehe. Hape baru di toko. Wkwk

      Delete
  12. Wah indah bgt yaa Jakarta pada malam hari dari atas monas...Jadi pengen ikut menikmati hehe

    ReplyDelete
  13. wahh bagus ya Jakarta malam hari kalo diliat dari monas jadi pengen menikmati juga,,,hehe

    ReplyDelete
  14. wahh bagus ya Jakarta malam hari kalo diliat dari monas jadi pengen menikmati juga,,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jakarta malam hari itu puitis. hehe. Terima kasih sudah mampir. :)

      Delete
  15. Hae, Bang Juls. Baca tulisan ini bikin aku banyak mikir. Salah satunya adalah; bagaimana kalau ibu penjual bandana lucu itu, berjualan bukan karena keadaan yang memaksa, tetapi karena beliau ingin saja. Yhaaa bisa jadi, kan, yha. Wkwkwk. Dan tulisan ini pas sekali muncul di saat-saat genting seperti sekarang. Semoga warga Jakarta dan Indonesia enggak lupa untuk saling berpelukan dan menghangatkan ;) Di atas segalanya.... terima kasih sudah menulis ini, Bang Juls. Lam kenal eaaaa aku Nica. #bodoamatCa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nicaaaa, makasi ya udah mampir. Emang banyak banget yg bisa dijadiin bahan mikir ya kalo ngomongin ibukota. Kompleks tapi tetep asik. :D

      Delete
  16. Mas ijul puitis bingiit, jadi terbawa suasana baca postingan nya hehe..keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Mbak Dewi. Senang bisa bergabung dengan teman-teman Indonesia Corners. Semoga kedepan makin banyak acara jalan-jalan lagi. :D

      Delete
  17. Membaca Jakarta dari balik monas sana, sepertinya perlu dilakukan secara rutin ya hehehe, menarik sekali jalan-jalannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jakarta nggak pernah kehabisan cerita ya, Mas. Semoga yang kita baca ga melulu tentang kerusuhan ya, Mas. Terima kasih sudah mampir. :D

      Delete
  18. Keren tulisannya :) Jadi sedikit syahdu nih bacanya...

    ReplyDelete
  19. Sentuhan sastra yang romantis. Tulisan perjalanan menjadi kian manis. Selamat sudah menang ya bro

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati