Serunya Menjadi Anak Pulau, Catatan Perjalanan Di Pulau Tidung

Empat pemuda usia dua puluhan tampak berlari tergesa-gesa menyusuri pasar, melewati jejeran barang dagangan berupa ikan-ikan laut segar dan sayur-sayuran. Pasar pagi tampak sibuk oleh kerumunan manusia. Dengan langkah yang cepat-cepat, saya bersama tiga orang teman saya melewati lautan manusia yang penuh dengan aneka aroma ini-itu. Sambil menyeka keringat di dahi dan pipi, akhirnya kami sampai juga di dermaga.

Pasar tradisional di kawasan Muara Angke memang selalu sibuk bahkan semenjak fajar terbit. Hasil tangkapan nelayan dan aneka bahan pangan dijual di sepanjang pasar. Alih-alih naik kendaraan odong-odong yang tersedia dengan tarif Rp. 5000,- saja untuk sampai ke dermaga, kami justru memilih menyusuri pasar itu dengan berjalan kaki. Sepuluh menit kira-kira waktu yang kami butuhkan untuk akhirnya sampai di tempat tujuan.

Saya sebenarnya sudah pernah melakukan perjalanan ke Muara Angke beberapa tahun silam, menyeberang ke salah satu pulau di gugusan kepulauan seribu. Kali ini, saya bersama tiga orang teman saya akan melakukan perjalanan ke Pulau Tidung, untuk menemani ketiga teman saya itu. Sesampainya di pelabuhan Muara Angke, saya cukup terkejut melihat kondisi pelabuhan saat ini. Tidak seperti dulu, pelabuhan Muara Angke kini jauh lebih rapi dan tertata. Pelabuhan sudah dilengkapi dengan loket tiket kapal di pintu masuk, jalanan di sekitar pelabuhan pun sudah diplester, bahkan di pelabuhan sudah tersedia armada Transjakarta. Jadi, bagi yang ingin berlibur ke Pulau Seribu, jangan khawatir. Untuk sampai ke pelabuhan Muara Angke, kamu sudah bisa naik Transjakarta dari Stasiun Kota.

Kapal miring, Kapten!

Perjalanan laut dari pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung memakan waktu sekitar 2,5 - 3 jam. Cukup merogoh kocek Rp. 47.000,00 saja untuk membayar tiket dan retribusi pelabuhan. Jangan lupa sediakan camilan, untuk jaga-jaga apabila laper di tengah jalan. (Soalnya nggak ada yang jualan somay, kan (?)). Biar tambah asik, kamu bisa duduk di bagian depan kapal deh. Aroma laut dan sejuknya angin bisa bikin beban hidup hilang sejenak....


Pulau Tidung dan Fenomena Wisatawan Membludak

Menurut salah seorang narasumber yang kami temui, konon dahulu pada saat peperangan, ada sekelompok suku bernama Suku Tidung yang melakukan hijrah dari Kalimantan ke pulau ini untuk berlindung dari serangan musuh. Kemudian, pulau ini 'dimantrai' oleh orang-orang sakti, sehingga pulau tersebut tidak bisa ditembus oleh orang-orang asing yang berniat akan menyerang pulau. Maka, akhirnya pulau inipun dikenal dengan nama 'Pulau Tidung'. Penduduk pulau Tidung rata-rata adalah keturunan Melayu. Di tengah-tengah pemukiman warga, berdiri cukup megah sebuah bangunan makam yang dipercaya sebagai Makam Raja Tidung.

Pulau Tidung mulai terkenal sebagai tempat wisata kira-kira pada awal 2000-an. Semenjak itu, dengan budget yang sedikit saja, wisatawan segera berbondong-bondong mengunjungi pulau Tidung, apalagi tersiar kabar bahwa keindahan pulau tidung tidak kalah dengan pulau Dewata Bali. Walhasil, kapal yang seharusnya hanya diisi maksimal 200-an penumpang, maka kapal dipaksa memuat 700an penumpang kala itu. Dampaknya, dalam waktu sebentar saja, pulau tidung segera padat oleh para wisatawan setiap pekan bahkan setiap harinya. Tak dapat dielakan, dengan pengelolaan tempat wisata yang belum memadai saat itu, pulau Tidung yang tadinya alami dan bersih, menjelma menjadi tempat penampungan sampah para wisatawan yang tidak bertanggung jawab.

Tetapi kondisi semacam itu tidak dibiarkan begitu saja. Para aktivis lingkungan yang peduli akan kondisi Pulau Tidung, beramai-ramai menyerukan kampanye dan aksi nyata dalam rangka menyelamatkan Pulau Tidung dari sampah. Sejak itu, pengelolaan kebersihan dan fasilitas lainnya di Pulau Tidung pun mulai dibangun dan ditingkatkan. Makanya, saat ini kita bisa melihat Pulau Tidung telah kembali bersih. Sehingga boleh dibilang Pulau Tidung telah kembali menjadi 'miniatur Bali'. Meskipun di luar sana stigma Pulau Tidung sebagai pulau yang kotor masih melekat cukup erat di benak masyarakat.

Serunya Naik Donut Boat dan Bersepeda Mengejar Sunset

Sebagai tempat wisata yang hemat sekaligus sangat mudah diakses, Pulau Tidung selalu kebanjiran pengunjung, apalagi setiap akhir pekan. Maka, untuk memanjakan para pengunjung, Pulau Tidung pun menyediakan wahana-wahana yang bisa dinikmati oleh para turis. Mulai dari air softgun, banana boat, donut boat, jetski, dan yang paling terkenal sekaligus gratis yaitu melompat di Jembatan Cinta.

Memacu Adrenalin

Di Pulau Tidung, saya hanya menyewa homestay bersama ketiga teman saya dengan tarif Rp. 750.000,- untuk 2 hari 1 malam. Kami sengaja tidak menggunakan jasa trip organizer, supaya bisa menikmati liburan secara eksklusif dan bisa membuat rundown sendiri sesuai keinginan kami. Hehe. Maka, untuk wahana-wahana yang kami nikmati, kami pun membayar secara langsung. Kami mulai dengan bermain air softgun, alias tembak-tembakan dengan tarif Rp 35.000 per orang. Setelah itu, yang sudah pasti tidak boleh dilewatkan, kami berempat langsung naik banana boat dan donut boat yang sangat menantang adrenalin. Setiap wahana dikenakan tarif Rp. 35.000,- per orang.

Lagi nunggu angkot, Mas?

Pada saat kami di sana, kebetulan sekali Jembatan Cinta sedang direnovasi. Jadinya, kita nggak bisa menikmati aksi melompat dari atas jembatan ke laut dengan kedalaman 5-10 meter deh. Yasudahlah, akhirnya kita cuma bisa memandang mantan laut sambil menikmati angin sepoi-sepoi~

Senyum Pepsodent nya mana?

Di Pulau tidung tersedia beberapa alternatif transportasi. Ada becak-motor, sepeda motor, dan sepeda. Kami memilih menyewa sepeda dengan tarif Rp.20.000 untuk 2 hari. Maka, kemana-mana pun kami pakai sepeda. Asyik, lho!

Bersepeda ke Timur

Pulau Tidung dibagi menjadi dua bagian. Bagian barat dan timur. Bagian barat adalah tempat yang cukup komersil dan ramai, yaitu bagian di mana wahana-wahana dan permainan berada. Sementara bagian timur relatif sepi karena di bagian ini belum dibangun rumah-rumah warga. Masih banyak ilalang dan terdapat hutan kecil. Nah, menurut saya bagian timur Pulau Tidung ini masih sangat asri dan asyik untuk sepedaan. Pada sore menjelang senja, segeralah bersepeda ke bagian Timur untuk mengejar Matahari tenggelam. Diiringi angin sejuk sepoi-sepoi, kamu mungkin nggak sadar kalau sedang berada di salah satu bagian Jakarta. Berasa di Maldives! Hahaha lebay~

Cover Album: Band Tank Takeshi
Buat kamu yang mau liburan ke Tidung, ada sedikit tips dari saya:

1. Siapkan uang cash yang cukup. Mengingat di Pulau Tidung hanya ada 1 atm, uang cash adalah segalanya. Besar kemungkinan uang di atm habis atau bahkan atm rusak. Nggak mau kan jadi kayak Tom Hanks di film Cast Away?

2. Kalau kamu memutuskan sepedaan mengelilingi pulau, siapkan kaki yang setrong. Pemanasan seperti lari-lari kecil sebelum berangkat bersepeda sangat dianjurkan. Siapkan balsem atau koyo, jaga-jaga kalau malam harinya kaki kamu cenat-cenut.

3. Sunblock itu wajib. Buat kamu yang ngerengek kulitnya iteman dikit, pergilah ke Pulau Kapuk saja. Canda~ Jangan lupa pakai sunblock dari ujung kepala sampai ujung kaki, untuk menghindari resiko kamu berubah menjadi zebra di kemudian hari.

Salam,

Juli

A video posted by Juls. (@juliardi_ahmad) on

Comments

  1. Aku ke tidung pas thn baru 2013. Sumpek bgt terlalu byk yg dtg. Ke jembatan cinta aja rebutan ga asik bgt gmn mau foto2. Pdhl aslinya tidung kan asri bgt. Pemandangan adem dan byk spot buat foto2..jd kangen kesana lg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak Ruli. Bagian barat emang rame. Saya lebih suka di bagian timur. Masih sepi banget. Adem lagi. Hehe~

      Delete
  2. Pas ke Tidung kayaknya gak sampai di bagian timurnya. Kayaknya menarik buat ke sana lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagian timur sangat bagus buat saya. Bahkan nggak berasa lagi di tidung, Mbak. Hehe. Terima kasih sudah mampir ya Mbak Rizka. :)

      Delete
  3. Hai bang jul Gmn kabar... Aku mampir ya bang... Suka sama gaya bahasa'a bang penulisan'a juga... Dlu aku k tidung g ngeh kl ada bagian timur sawah apa ilalang juga g liat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi apa kabar? Terima kasih ya sudah mampir. Iya saya juga baru ngeh ada bagian timur ini. Masih sepi banget tp justru asik. Hehe

      Delete
  4. Hai bang jul Gmn kabar... Aku mampir ya bang... Suka sama gaya bahasa'a bang penulisan'a juga... Dlu aku k tidung g ngeh kl ada bagian timur sawah apa ilalang juga g liat...

    ReplyDelete
  5. wah seru banget yaa perjalanannya....jadi mupeng haha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati