Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Sebelum terbang ke Thailand, dari jauh-jauh hari saya memang telah mempersiapkan segalanya. Mengingat ini adalah perjalanan perdana saya ke luar Indonesia, tentu saja saya tidak ingin jika nanti ada yang kurang ketika berada di negeri orang. Termasuk perkara transportasi ketika berada di sana nanti.


Untuk masalah yang satu itu, saya melakukan riset (baca: googling) sebanyak-banyaknya. Hingga akhirnya saya pun menemukan beberapa website yang cukup membantu saya dalam hal transportasi. Yang paling saya suka adalah situs https://www.rome2rio.com/, yang bisa mengetahui alat transportasi apa yang bisa kita gunakan untuk menuju satu tempat, lengkap dengan perkiraan waktu tempuh beserta tarifnya. Selain itu, saya juga tidak lupa mencari-cari informasi di aplikasi transportasi online seperti Grab dan Uber.

Di Bangkok tersedia banyak sekali jenis alat transportasi. Mulai dari taksi, tuk-tuk, angkot, kereta, perahu, dsb. Tetapi, mengingat salah satu destinasi yang ingin saya tuju adalah Ancient City Mueang Boran yang berada sangat jauh dari kota dan sepertinya tidak ada public transport yang menuju kesana, maka saya memutuskan menggunakan taksi saja.

Taksi Online Di Bangkok

Seperti yang kita tahu, tidak hanya di Indonesia, alat transportasi online seperti Grab dan Uber juga tersedia di beberapa negara lainnya, salah satunya di Thailand. Mengingat di Indonesia tarif taksi online jauh lebih murah dari taksi biasa, maka tanpa pikir panjang saya putuskan untuk memesan taksi online saja. Hitung-hitung cari pengalaman pakai taksi online di luar negeri. Hehe.

History Pemesanan Taksi Online

Memesan taksi online di negeri orang cukup bikin jantung deg-degan. Apalagi ketika berada di negara lain yang bahasa pengantarnya bukan bahasa Inggris. Tahu sendiri kan bagaimana bahasa Thailand? Gimana nanti kalau supirnya telepon? Harus ngomong apa? Saya beneran panik pada saat itu. Haha.

Tapi saya nekat saja deh. Yang terpenting pada saat memesan:

- Kamu berada di lokasi yang mudah diketahui sang driver. Misal di depan hotel, stasiun, atau di depan McDonalds gitu ya. Jangan nunggu di tempat yang sulit dikenali seperti di depan rumah mantan kuburan. Ingat lho, nggak semua orang Thailand bisa bahasa Inggris. Bahkan bahasa Inggris paling sederhana sekalipun.

Baca juga: Kuliner Khas Bangkok - Thailand, "Ini Bisa Dimakan?"

- Gunakan bahasa paling sederhana dan jelas ketika pak supir menelepon. Jangan ngomong panjang lebar kayak, "I am in front of St. Louis Hospital at Silom Road, near the Tuk-Tuk Shelter. I'm wearing blue jeans and red t-shirt and white shoes...". Jangan deh jangan. Dijamin Pak Supir cuma akan menjawab, "ช่วยฉั นผมหน่อยได้ไหม คะครับ." Nah lho haha!

Saat Pak Sopir menelepon, biasanya dia akan mengawalinya dengan sapaan, "Swad dee kraap!" yang artinya kurang lebih "Halo!". Kamu bisa menjawab dengan kalimat yang sama dan tambahkan sapaan dalam bahasa Inggris seperti, "Hello!" atau "Good Morning!", supaya Pak Sopir juga mengerti bahwa kamu berasal dari luar Thailand. Setelah itu, beri petunjuk di mana kamu berada dengan penjelasan yang singkat dan padat, seperti: "In front of McDonalds. Wearing red t-shirt." Ulangi sampai dia benar-benar paham.

- Minta tolong orang di sekitar jika Pak Sopir tetap gagal paham. Kadang-kadang memang ada sopir taksi yang sama sekali nggak mengerti bahasa Inggris. Nah, kalau sudah apes kayak gini, tetap tenang. Lihat sekitar kamu. Jangan sungkan untuk minta tolong agar seseorang bisa memberi petunjuk ke sang supir di mana lokasi kamu berada.

- Khawatir Pak Sopir tidak mengenali kamu saat sudah sampai lokasi, amati baik-baik merk dan nomor polisi kendaraan yang digunakan Pak Sopir. Informasi tersebut tertera di layar aplikasi taksi online. Jika kendaraan telah sampai di lokasi tempat kamu menunggu, jangan malu untuk nyamperin duluan.

Pada kasus saya, untung saja Pak Sopir taksi online yang saya pesan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit dan dia pun langsung mengerti bahwa saat itu saya menunggu di McDonalds dekat Chong Non Si Station.

Perjalanan dari daerah Chong Non Si ke Ancient City Mueang Boran ditempuh hampir satu jam via jalan tol. Tarif yang harus saya keluarkan yaitu 360 Baht atau sekitar Rp 140.000,-. Cukup mahal ternyata ya. Meskipun jika dibandingkan di Indonesia, tarif ini jauh lebih murah karena jarak yang ditempuh amat sangat jauh. Hanya saja karena jalan yang ditempuh sangat lancar, maka perjalanan terasa sangat cepat.

Pulang dari Mueang Boran saya memutuskan untuk menggunakan taksi biasa saja. Karena memang di sana tidak tersedia taksi online hiks. Maklum, daerahnya sangat jauh dari pusat kota. Perjalanan pulang pun ditempuh dengan lancar jaya. Sampailah saya di hotel tempat saya menginap di daerah Surasak di Bangkok. Saya cukup syok ketika mengetahui bahwa argo taksi biasa jauh lebih murah dari taksi online. Yaitu sekitar 270 Baht atau sekitar Rp. 100.000,- saja.

Pilih Taksi Biasa Atau Taksi Online?

Akhirnya, dari beberapa kali pengalaman menggunakan taksi saat berada di Bangkok, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa menggunakan taksi biasa ternyata lebih murah ketimbang taksi online. Mengingat di Bangkok sangat jarang terjadi macet, maka argo taksi pun akan kecil/ murah. Berbeda ketika di Jakarta, taksi konvensional justru biasanya lebih mahal karena adanya kemacetan di mana-mana.


Tips: Kalau kondisi jalanan Bangkok dirasa cukup lancar, lebih baik gunakan taksi konvensional saja. Tetapi, jika kondisi jalanan Bangkok cukup padat seperti misalnya pada jam sibuk, taksi online yang memiliki tarif flat bisa menjadi pilihan.


Selamat berpetualang!

Comments

Popular posts from this blog

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati