Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Sebuah Dongeng Ganjil Yang Memuaskan

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Parenom
Yusi Avianto Parenom adalah pendongeng yang pandai lagi sakti. Melalui novel setebal empat ratusan berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ini, beliau mencampur adukan khazanah cerita dari masa silam dengan caranya yang ganjil sekaligus memuaskan.

Kendati judul novel tersebut demikian adanya, nyatanya cerita di dalam buku bersampul jingga ini tidak melulu membahas tentang seorang pangeran bernama Mandasia yang kegemarannya begitu nyeleneh lagi sinting bukan main, yakni mencuri daging sapi!

Penulis justru mempersembahkan begitu banyak cerita yang saling berkelindan satu sama lain, secara runut dan detil, tapi tidak membuat bosan.

Dalam cerita-cerita tersebut, penulis dengan cerdik memunculkan tokoh-tokoh baru yang tak kalah penting dan menarik dibanding kisah Raden Mandasia sendiri. Yang mana masing-masing memiliki kisah hidup nun pelik lagi ganjil, namun di situlah kiranya letak kesenangan dalam membaca novel terbitan baNANA ini.

Setiap tokoh penunjang digarap sedemikian aduhai sehingga tidak jarang mereka justru memancing pembaca untuk turut simpati dan memihak, bahkan mungkin jatuh hati. Sebut saja kisah perjalanan hidup Nyai Manggis yang berliku dan penuh angkara, atau kisah si Juru Masak yang penuh perjuangan lagi konyol bukan main.

Dalam novel ini, penulis juga berusaha keras menjaga kemurnian setting masa lalu melalui tata-bahasa yang digunakan. Diksi yang dipakai dijaga sedemikian rupa agar tidak menyentuh perbendaharaan kata yang bersifat modern. Sehingga pembaca seakan-seakan sedang membaca sebuah kitab yang memang dari masa lalu. Tak jarang, karena aspek ini, pembaca pun harus rajin membolak-balik kamus untuk mengetahui arti sebuah kata yang mungkin baru ditemui.

Lalu bagaimana alur ceritanya? Yuk-yuk mari kita simak~

Alih-alih digarap dengan menggunakan sudut pandang Raden Mandasia, cerita justru digulirkan melalui lisan seorang narator yang sangat cerewet, ambisius, juga (boleh dikatakan) labil yang bernama Sungu Lembu.

Siapa sih dia?

Sungu Lembu adalah seorang pemuda usia delapan belas (atau sembilan belas, maaf saya lupa) yang lahir di sebuah kerajaan kecil bernama Banjaran Waru. Ambisinya hanya satu: membunuh Raja Gilingwesi yang (dianggapnya) lalim, yang tak lain adalah ayahanda Raden Mandasia.

Tahu tidak, Sungu Lembu gemar memaki-maki apapun yang kiranya membikin dia kesal. Tak jarang, dalam narasi kita akan sangat sering menemukan kata "anjing" dari mulut Sungu Lembu. Haha.

Maka dari itu, perlu saya peringatkan di awal, bahwa di dalam novel ini kita akan acapkali menemukan adegan-adegan brutal nun sinting, seks nun ganjil, dan lelucon-lelucon di luar nalar. Seringkali itu bikin merinding dan mual jika tidak terbiasa. Seperti kisah Barja yang kehilangan buah zakarnya akibat diinjak kerbau, atau adegan menguliti manusia demi sebuah misi, dan masih banyak lagi. Puji Tuhan...

Nah, mari kita lanjutkan ceritanya~

Setelah tragedi kelam di kampung halamannya di Banjaran Waru yang berakhir menewaskan bibinya, Nyi Banyak, dan kenangan pahit di masa lalu tentang ibunya, pamannya yang dijebloskan ke penjara dan seterusnya, maka dengan segenap kekuatan dan rasa percaya diri, akhirnya Sungu Lembu memutuskan untuk pergi ke Gilingwesi untuk membalaskan dendamnya. Raja Gilingwesi, Watugunung, harus mati di tangannya.

Lalu bagaimana sampai akhirnya Sungu Lembu bertemu dengan Raden Mandasia yang ganjil itu?

Tunggu dulu. Mari kita kenalan dengan Raden Mandasia dulu ya...

Raden Mandasia adalah seorang pangeran dari Kerajaan Gilingwesi, salah satu dari dua puluh tujuh putra Watugunung yang sakti. DUA PULUH TUJUH DARI RAHIM YANG SAMA MEN! Yagusti...

Oke lanjut.

Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, Raden Mandasia tidak mau ikut aturan kerajaan. Dia adalah anak muda yang bikin aturan hidupnya sendiri. Dia berkelana kesana-kemari untuk memuaskan kegemarannya yang ganjil: Mencuri daging sapi.

Sampai akhirnya di tengah perjalanannya, tepatnya di rumah makan milik Nyai Manggis, Raden Mandasia berjumpa dengan Sungu Lembu.

Kemudian, akibat satu insiden yang terjadi di rumah Nyai Manggis, Sungu memutuskan untuk menemani perjalanan Raden Mandasia.

Serius. Petualangan mereka berdua EPIC guys! Macem nonton film-film kolosal gitu... Melewati lautan yang ganas, padang pasir yang tandus, dan peperangan yang tidak akan pernah terlupakan.

Penulis dengan tangkas mampu menggambarkan semua petualangan itu dengan intens, penuh intrik, dan seringkali di luar nalar dan tidak diduga-duga.

Selain brutal, konyol, dan sinting, tak lupa cerita juga dibumbui dengan kisah romantis lagi mengharukan. Setidaknya ada dua adegan perpisahan yang bikin saya sedih. Yang pertama saat Sungu harus berpisah dengan Nyai Manggis, dan yang kedua ketika Sungu Lembu harus melepas Raden Mandasia. Hiks!

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai setiap kisah yang dihadirkan dalam buku ini. Meskipun, harus saya katakan bahwa penulis mungkin benar-benar gila hingga dapat membuat pembacanya bergidik bahkan mungkin muntah pada beberapa adegan yang dibuatnya.

Salam.

Comments

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati