Inilah Koleksi Lukisan Soekarno, Ternyata Ada Juga Yang Dilukisnya Sendiri Lho!

Menikmati Lukisan

"Aku, Soekarno, akan jadi model!"

Kalimat di atas diucapkan oleh seorang Soekarno ketika melihat lukisan karya Henk Ngantung berjudul "Memanah" belum rampung dikerjakan. Henk belum menyelesaikan bagian tangan pada lukisan tersebut, sebab katanya untuk menyelesaikannya ia memerlukan seorang model. Pada saat itulah Soekarno dengan semangat berinisiatif menjadi model untuk lukisan Henk.

Informasi menarik di atas tentu tidak akan saya ketahui kalau saja saya tidak menghadiri sebuah pameran lukisan bertajuk Goresan Juang Kemerdekaan yang dihelat di Galeri Nasional, Jakarta. Berdasarkan poster yang diunggah pada akun Instagram @galerinasional, pameran lukisan tersebut berlangsung sejak 2 - 30 Agustus 2016.

Pada Sabtu lalu (13/8), saya sengaja datang ke gelaran tersebut sebagai bentuk perayaan terhadap kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Karena bagi saya, bukan hanya lewat buku saja, tetapi dengan datang ke museum dan pameran semacam ini, kita juga bisa tahu dan belajar lebih dekat tentang bagaimana sejarah bangsa kita di masa lalu. Untuk diketahui, pameran ini menjadi begitu menarik karena para pengunjung akan bisa melihat berbagai karya seni rupa yang menjadi koleksi Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno.


Tidak disangka-sangka, ternyata banyak juga peminat yang datang ke pameran ini ya. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, dari warga lokal hingga para turis asing pun, saya lihat ramai berkumpul menunggu antrian registrasi. Kalau dihitung-hitung, pengunjung pameran bisa mencapai ratusan orang lho. Wah.

Suasana Antrian Registrasi

Ohiya. Bagi kamu yang ingin menikmati karya-karya yang dipamerkan di dalam gedung pameran, kamu harus bersabar antre untuk melakukan registrasi terlebih dahulu ya. Sebenarnya, registrasi bisa dilakukan secara online melalui aplikasi Bek-ID yang bisa diunduh secara gratis di Play Store. Jadi kamu nggak perlu berlama-lama antre untuk bisa masuk ke gedung pameran.

Napak Tilas Sejarah Melalui Koleksi Lukisan Sang Proklamator

Setelah menunggu cukup lama di barisan antrian registrasi, akhirnya tiba saatnya saya dan teman-teman dipersilakan untuk masuk ke ruang pameran. Duh, cukup dag dig dug juga. Hehe. Bayangkan saja, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk bisa melihat-lihat koleksi lukisan presiden pertama Republik Indonesia yang umurnya bisa mencapai puluhan tahun silam.

Melihat Sejarah Melalui Sebuah Lukisan
Wah, tidak hanya lukisan, Soekarno pun ternyata gemar mengoleksi keramik juga lho. Terlihat di beberapa sudut ruangan terpajang keramik-keramik yang dikoleksi oleh beliau. Nah, khusus untuk lukisan-lukisan yang dipajang, di sisi setiap lukisan ditempelkan keterangan lukisan tersebut. Hal ini agar memudahkan para pengunjung mengetahui sekaligus mempelajari sejarah mengenai lukisan tersebut. Nambah wawasan deh!

Sebenarnya, pihak panitia juga telah memfasilitasi pameran lukisan ini dengan aplikasi yang keren. Aplikasinya bernama Goresan Juang Kemerdekaan, dan bisa diunduh juga di Playstore. Jadi, para pengunjung bisa menggunakan aplikasi tersebut sambil menikmati lukisan yang ada. Dengan teknologi Augmented Reality, pengunjung cukup melakukan scanning dengan aplikasi tersebut pada lukisan, maka kemudian akan muncul keterangan terkait lukisan tersebut. Wih!

Fotografi Ir. Soekarno
Bagaimana jika kamu tidak bisa datang ke pameran karena tempat tinggal kamu jauh dan sebagainya? Nah, jangan khawatir. Aplikasi ini juga memungkinkan teman-teman yang tidak bisa hadir ke pameran untuk menikmati lukisan-lukisan yang dipamerkan melalui aplikasi tersebut lho. Jadi, seluruh masyarakat Indonesia sama-sama mendapat kesempatan untuk menikmati koleksi lukisan sang proklamator.

Koleksi Lukisan Sang Bapak Proklamator Dan Sebuah Lukisan Misterius Berjudul "Rini"

Cukup lama saya menikmati satu-satu dengan cermat lukisan yang dipajang di ruang pameran tersebut. Rasa takjub dan syukur tak henti-henti saya ucapkan ketika melihat karya-karya indah yang berasal dari masa yang cukup jauh itu. Lukisan-lukisan yang dibuat dengan media cat minyak itu sebagian besar berkisah tentang semangat juang rakyat Indonesia dalam hal kemerdekaan.

Saya mencoba merangkum beberapa karya lukisan yang dipamerkan pada gelaran Goresan Juang Kemerdekaan pada uraian singkat di bawah ini. Semoga teman-teman pembaca bisa menikmatinya juga. Ohiya, tahu tidak kalau ternyata ada sebuah lukisan yang dibuat sendiri oleh Ir. Soekarno lho!

1. "Memanah" karya Henk Ngantung

"Memanah" karya Henk Ngantung

Cuplikan cerita tentang lukisan Henk Ngantung yang sempat saya bahas di awal tulisan ini memang menarik untuk diulik lebih jauh. Menarik karena secara kebetulan lukisan berjudul "Memanah" ini dipakai sebagai latar belakang saat pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

"Lukisan bagus. Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus, terus, dan terus bergerak maju. Paulatim Longius itur!" Begitu kata Soekarno saat menemukan lukisan ini pada pameran yang diadakan Keimin Bunka Sidhoso, Jakarta 1944.

2. "Laskar Rakyat Mengatur Siasat I" karya Affandi

"Laskar Rakyat Mengatur Siasat I" karya Affandi
Pada kenyataannya, lukisan karya Affandi berjudul "Laskar Rakyat Mengatur Siasat 1" di atas merupakan sebuah poster berukuran besar yang dibuat di atas kain. Affandi sengaja membuat poster tersebut dengan tujuan untuk menggelorakan semangat para pejuang di medan perang. Pada masa peperangan, Affandi dan teman-teman pelukis lainnya kerap berkumpul dan pergi ke medan pertempuran untuk melukis langsung kondisi di sana. Wah! Tak mengherankan, Soekarno akhirnya tercengang dengan hasil karya Affandi.

"Affandi, ini bukan poster biasa, tetapi lukisan yang sangat bagus," kata Presiden Soekarno kepada Affandi.


3. "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karya Raden Saleh

"Penangkapan Pangeran Diponegoro" Karya Raden Saleh
Raden Saleh dianggap sebagai pelopor seni rupa modern Indoensia. Lukisan berjudul "Penangkapan Pangeran Diponegoro" ini diinspirasi oleh lukisan seorang pelukis Belanda berjudul "Penyerahan Diri Dipo Negoro" tahun 1830. Lukisan bernada nasionalisme ala Jawa ini mencoba mengecam penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Lukisan yang sebelumnya diserahkan kepada Ratu Belanda ini akhirnya dikembalikan ke Pemerintah Indonesia pada 1978.

4. "Kawan-kawan Revolusi" karya S. Sudjojono

"Kawan-kawan Revolusi" karya S. Sudjojono

Dalam waktu hanya lebih-kurang satu hari saja, S. Sudjojono akhirnya mampu menyelesaikan lukisan bertajuk "Kawan-kawan Revolusi", sebagai bentuk jawaban atas tantangan seorang kritikus seni bernama Trisno Sumardjo. Lukisan yang terinspirasi dari perjuangan seorang pahlawan bernama Bung Dullah ini akhirnya dibeli oleh Soekarno dan dipasang di Istana Negara Jakarta.

5. "Kerokan" karya Hendra Gunawan

"Kerokan" karya Hendra Gunawan
Pelukis kelahiran Bandung, 11 Juni 1918 ini pernah dipenjara oleh rezim Orde Baru, setelah peristiwa tragedi kemanusiaan 1965. Hendra dikenal lewat lukisan-lukisannya yang kerap menggambarkan secara intens kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Salah satu lukisannya yang berjudul "Kerokan" memperlihatkan aktivitas yang sangat dekat dengan kita, yaitu seorang gadis sedang mengeroki punggung seorang wanita. Aktivitas ini biasanya dilakukan untuk mengobati orang yang sedang masuk angin.

6. "Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9" karya Walter Spies

"Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9" karya Walter Spies

Kekhasan karya Walter Spies terletak pada unsur cahaya yang diterapkan secara intens pada lukisan-lukisannya. Efek pencahayaan tersebut kemudian membuat lukisan-lukisannya tampak dramatis dan hidup seperti yang tampak pada lukisan di atas yang bertajuk "Kehidupan di Borobudur di Abad Ke-9". Diperkirakan, Soekarno mengoleksi lukisan ini pada pertengahan dasawarsa 50-an.

7. "Rini" karya Presiden Soekarno

"Rini" karya Presiden Soekarno

Siapakah sosok Rini yang menjadi obyek lukisan di atas? Saya bertanya-tanya sekaligus takjub, begitu mengetahui bahwa lukisan diatas lahir dari tangan seorang Soekarno. Menurut pemandu yang saya tanya saat berada di pameran, sosok wanita bernama Rini yang dilukis oleh Ir. Soekarno masih misterius hingga sekarang. Adapun bagaimana sejarah di balik pembuatan lukisan ini, berikut referensi yang saya dapatkan dari pameran Goresan Juang Kemerdekaan.

Selang beberapa waktu jang lalu Bung Karno pergi beristirahat di Bali. Dullah, pelukis istana Presiden, diadjaknya. Seperti biasa Dullah di Bali mentjoba membuat lukisan. Tetapi baru sadja dibuat garis-garis tjenkorongan (sketch) yang belum berarti telah ditinggalkannja kembali ke Jakarta dan tidak dikerdjakannya lagi. Pada bulan Nopember masuk Desember tahun 1958 Bung Karno kembali lagi ke Bali beristirahat selama sepuluh hari. Dullah tidak ikut. Tahu-tahu selama sepuluh hari di Bali Bung Karno melukis menjelesaikan sketchnya Dullah hingga selesai menjadi sebuah lukisan seperti yang tertjantum dalam halaman ini. Tentu sadja banjak dibuat perobahan-perobahan dan tambahan-tambahan dari sketch semula."


Demikianlah, sedikit ulasan saya tentang koleksi lukisan sang proklamator. Semoga tulisan sederhana ini dapat menambah wawasan teman-teman pembaca mengenai khazanah seni rupa, lebih-lebih yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia. Merdeka!

---*

*Referensi: Pameran "Goresan Juang Kemerdekaan", Galeri Nasional, Jakarta
*Foto sebagian didapat dari seorang teman bernama Aninda.


Comments

  1. Kayanya bakalan download aplikasinya ya. Meski mupeng juga pengen liat langsung. Btw ada biayanya ga? Berapakah biayanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohiya lupa kasih tau HTM-nya ya Mbak. Acara ini gratis tis tis. Hehe.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Transportasi Saat Di Bangkok, Pilih Taksi Biasa atau Taksi Online?

Tuhan Maha Romantis, Menciptakan Jakarta Begitu Puitis

Paket Wisata Seru Ke Jepang Bersama Cheria Tour Travel, Biro Perjalanan Pilihan Hati